Kamis, 04 Juli 2013

laporan oksigen di perairan leang-leang kab maros

BAB I
PENDAHULUAN
I.1.     Latar Belakang
                Perikanan adalah proses pengolahan dan pemanfaatan lebih lanjut dari hewan yang hidup di air seperti ikan dan sejenis ikan dengan cara memanfaatkan sumber daya manusia, tumbuhan, makhluk hidup dan alat-alat lainnya. Di negara Indonesia yang kaya akan berbagai sumber daya perairan, bidang perikanan dikelola oleh Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). Maksudnya Departemen Kelautan dan Perikanan sebagai pengatur dan pemberi kebijakan-kebjakan mengenai perikanan agar sumber daya perairan di Indonesia dapat dimanfaatkan sebik-baiknya untuk kesejahteraan rakyat (Josupeit dan franz, 2003). Untuk memperoleh sumberdaya periran yang berkualitas, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kuailtas airnya.
                Kualitas air dapat mempengaruhi hasil perikanan, lima syarat utama kualitas air bagi kehidupan ikan adalah Rendah kadar amonia dan nitrit, bersih secara kimiawi, memiliki pH, kesadahan, dan temperatur yang sesuai, Rendah kadar cemaran organik, dan stabil. Kualitas air secara umum menunjukkan mutu dan kondisi air dikaitkan dengan keperluan tertentu misalnya kualitas air untuk irigasi dan kualitas air untuk minum. Dalam lingkup akuarium, secara umum kualitas air mengacu pada cemaran yang dikandung dalam perairan yang menunjang kehidupan pada ekosistem tersebut. Air yang jernih bukan berarti air yang baik untuk ikan, jernih bukanlah salah satu syarat kualitasnya air. Bahkan sering dijumpai ikan hidup berkembang dan tumbuh dengan subur pada peraian yang terkesan kotor oleh manusia (Josupeit dan  Franz, 2003).
                Jernih ataupun kotornya suatu perairan di pengaruhi oleh parameter air misalnya parameter kecerahan, suhu, kadar nitrat dan posfat serta kandungan oksigen dan karbondioksida. Dalam lingkungan perairan, ikan melakukan interaksi aktif dengan energi seperti  oksigen (O2), karbon dioksida (CO2), garam-garam dan sisa metabolisme. Pertukaran materi ini terjadi antar muka, pada bahan berupa membran semipermeabel yang terdapaat pada  ikan, jika terdapat suatu bahan-bahan tertentu dengan jumlah yang tertentu akan menggagu mekanisme kerja membran tersebut dan menyebabkan kematian pada ikan  (Triyanto & Dwijono 2010).
                Berdasarkan latar belakang di atas maaka kami ingin melakukan penelitian di derah maros untuk melihat kualitas air berdasarkan parameter.
I.2.     Nama Kegiatan
  Kegiatan ini bernama Studi Ilmiah Perairan (SIP)
I.3.     Maksud Dan Tujuan
I.3.1.  Maksud
 Maksud diadakan kegiatan ini adalah untuk mengetahui kisaran parameter Oksigen, karbon dioksida, Nitrat, Phospat, Suhu, Kecerahan serta mengukur kedalaman pada suatu perairan.   
I.3.2.  Tujuan
Tujuan dari kegiatan Studi Ilmiah Perairan adalah :
Untuk mengetahui kisaran parameter pada suatu perairan.
untuk mengukur parameter fisika dan parameter kimia pada suatu perairan.
untuk membandingkan hasil yang diperoleh pada saat teori dan hasil yang diperoleh di lapangan.
I.4.    Waktu Pelaksanaan
  Kegiatan Pra-Studi ilmiah perairan dilaksanakan pada :
                                Tanggal : 06 – 17 JUNI 2013
                                Pukul                     : 09.00 WITA
                                Tempat                : Sekret HMP MSP


   Kegiatan Studi Ilmiah Perairan dilaksanakan pada :
Tanggal : kamis, 20 - 21 Juni 2013
Pukul     : 09.00 WITA – SELESAI
Tempat                : Tebing kura-kura, Desa Leang-Leang, kabupaten   Maros.
I.5.    Penanggung Jawab Kegiatan
Penanggung Jawab Kegiatan Studi Ilmiah Perairan adalah :
Kordinator Stering comitte          : Ignasius Yalfet
                Stering Comitte                                :
Khaerul S.Pi
Muh. Yusfi Yusuf
Rudi Rahmat
Adi Pranata Sofyan
                Ketua                                                    : Junardiawan Sandi Ode
                Kordinator Lapangan                      : Sahrianto
I.6     Personel Pelaksana
Nama                                    : Mega Sriutami
Nama                                    : Nur Wahida
Nama                                    : Rima
Nama                                    : Muh. Amirsyah
Nama                                    : Maghfira F.A.R
Nama                                    : Resky Kurniansyah
Nama                                    : Nirmala Sari
Nama                                    : Hasriyadi
Nama                                    : A. Nurhanna




BAB II
LANDASAN TEORI
Dalam  keberlangsungan  kehidupan makhluk hidup, Oksigen sangat di perlukan untuk bernapas maupun di perlukan untuk proses biologi, kimia dan fisika. Di dalam suatu perairan, oksigen diperlukan oleh organisme  yang mempunyai ukuran tubuh yang besar maupun yang kecil dimana penggunaan oksigen tergantung pada kondisi tubuhnya dan aktivitasnya. Oksigen mempunyai peranan penting dalam kehidupan seluruh makhluk hidup, baik hewan maupun tumbuhan. Makhluk darat menghirup oksigen yang terdapat pada udara bebas, sedangkan makhluk yang hidup di dalam air menghirup oksigen yang terlarut di dalam air (terikat). Kebutuhan oksigen  pada biota air mempunyai dua aspek kebutuhan lingkungan bagi spesies tertentu dan kebutuhan konsumtif yang bergantung pada kebutuhan metabolisme (Asmawi, 1986).
Kadar oksigen dalam air laut yang normal biasanya antara 4-6 ppm. Sedangkan kadar oksigen di udara bebas yaitu 20 % (200.000 ppm). Kadar O2 dalam air dapat lebih tinggi atau lebih rendah tergantung dari organisme yang ada di dalam air tersebut. Makin banyak organisme (ikan, plankton, tanaman air) di dalam air makin banyak pula pemakaian O2 untuk pernapasan berarti makin sedikit kandungan O2 dalam air. Apabila organisme tersebut berupa fitoplankton atau tanaman air maka pada siang hari makin banyak kandungan O2 dalam air, karena fitoplankton dan tanaman air tersebut menghasilkan O2 sebagai sisa proses fotosintesa (Bayard, 1983).
Oksigen diperlukan ikan untuk respirasi dan metabolisme dalam tubuh ikan untuk aktivitas berenang, pertumbuhan, reproduksi dan lain-lain. Laju pertumbuhan dan konversi pakan juga sangat tergantung pada kandungan oksigen. Nilai oksigen di dalam pengelolaan kesehatan ikan sangat penting karena kondisi yang kurang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan dapat mengakibatkan  ikan stress sehingga mudah terserang penyakit. Kebutuhan oksigen untuk tiap jenis biota air berbeda-beda, tergantung dari jenisnya dan kemampuan untuk beradaptasi dengan naik-turunnya kandungan oksigen.Konsentrasi oksigen yang rendah dapat diatasi dengan menggunakan aerator ataupun kincir air. Pada level di bawah 1 mg/l dapat menyebabkan penurunan laju pertumbuhan ikan. Beberapa jenis ikan air tawar mampu bertahan hidup dengan konsentrasi oksigen kurang dari 4 mg/l atau per million (ppm) tetapi nafsu makannya mulai menurun.
Untuk mempertahankan hidupnya, maka makhluk hidup yang tinggal di air baik tanaman maupun hewan tergantung pada kadar oksigen terlarut. Oksigen berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman tergantung pada pencampuran (miksin) dan  prgerakan (turbulensi) massa air, aktifitas fotosintesis respirasi dan limbah (effluent) yang masuk ke badan air. Di perairan air tawar, kadar oksigen terlarut antara 15 mg/l pada suhu 0º C dan 8 mg/l pada suhu 25ºC.
Kandungan oksigen (O2) dalam suatu perairan merupakan salah satu parameter kimia dalam menentukan kualitas air yang tingkat kebutuhannya dari tiap-tiap perairan, berbeda antara perairan satu dengan lainnya. Hal ini karena dipengaruhi oleh faktor suhu dan cuaca serta jenis organisme yang menempati perairan tersebut.
Menurut Kordi (2004), Oksigen (O2) merupakan salah satu faktor pembatassehingga apabila ketersediaannya dalam perairan tidak mencukupi kebutuhan organisme yang ada, maka segala aktivitas organisme tersebut akan terhambat. Kadar oksigen yang terlarut dalam perairan alami bervariasi, tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Semakin besar suhu dan semakin kecil atmosfer, kadar oksigen terlarut semakin sedikit. Perbedaan kebutuhan oksigen dalam suatu lingkungan bagi ikan dari spesies tertentu disebabkan oleh adanya perbedaan struktur molekul sel darah ikan, yang mempengaruhi hubungan antara tekanan parsial oksigen dalam air dan derajat kejenuhan oksigen dalam sel darah.
 Sumber Oksigen (O2)
Oksigen (O2) merupakan salah satu unsur yang sangat dibutuhkan oleh semua mahluk hidup, khususnya didalam perairan. Dalam perairan oksigen merupakan gas terlarut yang kadarnya bervariasi yang tergantung pada suhu dan salinitas. Oksigen dapat bersumber dari difusi oksigen yang terdapat diatmosfer dan aktifitas fotosintesis tumbuhan air maupun fitoplankton dengan bantuan energi matahari. Difusi juga dapat terjadi karena agitasi atau pergolakan massa air akibat adanya gelombang atau ombak dan air terjun (Effendi, 2003).
Menurut Khiatuddin (2003), oksigen juga dapat berasal dari oksidasi karbohidrat sebagai sumber energi dalam metabolisme tubuh dan pembakaran karbohidrat tersebut mengeluarkan kembali karbondioksida dan air, yang sebelumnya digunakan dalam proses pembentukan karbohidrat melalui proses fotosintesis.

Kadar Oksigen (O2)
Dalam perairan, khususnya  perairan tawar memiliki kadar oksigen (O2) terlarut berkisar antara 15 mg/l pada suhu 0oC dan 8 mg/l pada suhu 25oC. Kadar oksigen (O2) terlarut dalam perairan alami biasanya kurang dari 10 mg/l (Efendi, 2003).
Menurut Boyd (1990) dalam Caca dan Polong (2009), besarnya oksigen yang diperlukan oleh suatu organisme perairan tergantung spesies, ukuran, jumlah pakan yang dimakan, aktivitas, suhu, dan sebagainya. Konsentrasi oksigen (O2) yang rendah dapat menyebabkan stress dan kematian pada ikan. Lebih lanjut dikatakan oleh Hanafiah (2005), Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar oksigen (O2) dalam perairan  secara umum  merupakan konsekuensi terhambatnya aktivitas akar tumbuhan dan mikroba, serta difusi yang menyebabkan naiknya kadar CO2 dan turunnya kadar O2.

Peranan Oksigen (O2) Dalam Perairan
Menurut Zonnelved (1991) dalam Kordi (2004) kebutuhan oksigen mempunyai dua aspek, yaitu kebutuhan lingkungan bagi spesies tertentu dan kebutuhan komsutif yang tergantung pada keadaan metabolisme suatu organisme. Perbedaan kebutuhan oksigen dalam suatu lingkungan bagi spesies tertentu disebabkan oleh adanya perbedaan molekul sel dari organisme yang mempengaruhi hubungan antara tekanan parsial oksigen dalam  air dan  derajat kejenuhan oksigen dalam sel darah.
Organisme dalam air membutuhkan oksigen guna pembakaran bahan bakarnya (makanan) untuk menghasilkan aktivitas, seperti aktivitas berenang, pertumbuhan, reproduksi, dan sebagainya. Beberapa jenis organisme air mampu bertahan hidup pada perairan dengan konsenterasi oksigen 3 ppm, namun  konsenterasi minimum yang masih dapat diterima sebagian besar organisme air untuk hidup dengan baik adalah 5 ppm. Pada perairan dengan konsenterasi oksigen dibawah 4 ppm organisme masih mampu bertahan hidup, akan tetapi nafsu makan mulai menurun (Kordi, 2004).

  Hubungan Oksigen (O2) Dengan Parameter Lain
Oksigen (O2) dalam suatu perairan tidak lepas dari pengaruh parameter lain seperti karbondioksida, alkalinitas, suhu, pH, dan sebagainya. Di mana semakin tinggi kadar oksigen yang dibutuhkan, maka karbondioksida yang dilepaskan sedikit. Hubungan antara kadar oksigen terlarut dengan suhu ditunjukkan bahwa semakin tinggi suhu, kelarutan oksigen semakin berkurang (Efendi, 2003), hal ini di sebabkan karena semakin tinggi suhu maka sistem metabolisme semakin meningkat juga jadi karbondioksida semakin sedikit dalam suatu perairan.
Kadar oksigen (O2) dalam perairan  tawar akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan berkurangnya kadar alkalinitas. Pada lapisan permukaan, kadar oksigen akan lebih tinggi karena adanya proses difusi antara air dengan udara bebas serta adanya proses fotosintesis. Dengan bertambahnya kedalaman akan mengakibatkan terjadinya penurunan kadar oksigen terlarut dalam perairan .
Dalam kondisi dimana konsentrasi oksigen terlarut sangat rendah dapatterjadi proses kebalikan dari nitrifikasi yaitu proses denitrifikasi dimana nitratmelalui nitrit akan menghantarkan  nitrogen bebas yang akhirnya akan lemas ke udara atau dapat juga kembali membentuk ammonium/amoniak melalui proses amnonifikasi nitrat(Barus, 2001).Di perairan alami nitrat(NO2)biasanya di temukan dalam jumlah yang sedikit,karena bersifat tidak stabil dengan keberadaan oksigen(Effendi,2003).

Dampak Oksigen (O2) Dalam Perairan
Pengurangan oksigen (O2) dalam air pun tergantung pada banyaknya partikel organik dalam air yang membutuhkan perombakan oleh bakteri melalui proses oksidasi. Makin banyak partikel organik, maka makin banyak aktivitas bakteri perombak dan makin banyak oksigen yang dikonsumsi sehingga makin berkurang oksigen dalam air (Lesmana, 2005).
Oksigen (O2) terlarut dalam air secara ilmiah terjadi secara kesinambungan. Organisme yang ada dalam air pertumbuhannya membutuhkan sumber energi seperti unsur carbon (C) yang diperoleh dari bahan organik yang berasal dari ganggang yang mati maupun oksigen dari udara. Dan apabila bahan organik dalam air menjadi berlebih sebagai akibat masuknya limbah aktivitas (seperti limbah organik dari industri), yang berarti suplai karbon (C) melimpah, menyebabkan kecepatan pertumbuhan organisme akan berlipat ganda (Putranto, 2009).

Penanggulangan Oksigen (O2)
Oksigen terlarut dalam air merupakan parameter kualitas air yang paling kritis pada budidaya ikan. Konsentrasi oksigen terlarut dalam perairan selalu mengalami perubahan dalam sehari semalam. Sehingga apabila kadar oksigen terla rut berkurang dalam air, maka perlu dilakukan cara-cara yaitu menggunakan aerator atau alat sirkulasi air yang mampu memutar oksigen dari udara kedalam air sacara cepat dan dalam jumlah besar. Oleh karena itu, pengelolaan dalam perairan harus selalu diperhatikan kadar dan perubahan konsentrasi oksigen terlarutnya (Sitanggang, 2002).
Dalam perairan, apabila terjadi penurunan  oksigen dapat dilakukan dengan penambahan bahan kimia menjadi senyawa yang lebih sederhana sebagai nutrien yang sangat dibutuhkan organisme perairan. Oksigen terlarut ini diperlukan untuk menjaga kelestarian kehidupan tumbuhan dan hewan dalam air. Kehilangan oksigen karena proses biologis ini diganti dari melarutkan udara di dalam air dan dari proses fotosintesis tumbuhan air.





BAB III
METODE KEGIATAN

3.1. Pra Kegiatan
Ada pun jadwal pra-kegiatan adalah sebagai berikut :
JADWAL KEGIATAN BINA FISIK STUDI ILMIAH PERAIRAN
HMP MSP KEMAPI FIKP UNHAS

NO
ITEM KEGIATAN
HARI/TGL
WAKTU
PENANGGUNG JAWAB
1
Lari 1 x Putaran
Sabtu, 08 Juni 2013
16.00 – End
SC dan OC
2
Renang
Minggu, 09 Juni 2013
16.00 – End
OC
3
Lari 1 x Putaran + variasi
Jum’at, 14 Juni 2013
16.00 – End
SC dan OC
3
Renang
Sabtu, 15 Juni 2013
16.00 – End
OC


JADWAL KEGIATAN STUDI ILMIAH PERAIRAN
HMP MSP KEMAPI FIKP UNHAS

NO
MATERI
HARI/TGL
WAKTU (WITA)
KETERANGAN
(Pemateri. PJ, dll)
1
Technical Meeting
Kamis, 06 Juni 2013
09.00 – 09.45
Steering Committe
2
Sejarah HMP MSP KEMAPI FIKP UNHAS dan Struktur kepenguruan Periode 2012 – 2013
Kamis, 06 Juni 2013
10.00 – 11.30
SAEFUL BAHRI
3
Nitrat (N) dan Phosfat (F)
Kamis, 06 Juni 2013
12.00 – 13.00
DENNI ARISTIAWSAN
4
MANAJEMEN PERJALANAN
Kamis, 06 Juni 2013
14.00 – 16.00
MUHAMMAD YUSFI YUSUF
5
Organisasi dan Lembaga
Sebtu, 08 Juni 2013
14.00 – 15.30
ZULUNG ZACH WALYANDRA
6
BINA FISIK
Sabtu, 08 Juni 2013
16.00 – End
--____--
7
BINA FISIK
Minggu, 09 Juni 2013
16.00 – End
--____--
8
Oksigen (O2), Karbondioksida (CO2), dan Alkalinitas
Selasa, 11 Juni 2013
10.00 – 11.00
ADHIYAAT RIDHO AGAM
9
PPGD
Selasa, 11 Juni 2013
11.30 – 13.00
TBM CALCANEUZ FK – UH
10
Suhu (˚C) dan pH
Selasa, 11 Juni 2013
14.00 – 15.00
DARNI
12
Metode Pendataan dan Sistemtika Laporan
Selasa, 11 Juni 2013
15.00 – 16.00
ABZHAL BASTARIE
11
Survival
Kamis, 13 Juni 2013
10.00 – 11.00
IGNASIUS YALFET
12
Kepadatan dan Kerapatan Ekosistem Mangrove
Kamis, 13 Juni 2013
11.00 – 13.00
MUHAMMAD NUR / ARNOLD KABANGGA / SABILI RASAD
13
BINA FISIK
Jum’at, 14 Juni 2013
16.00 – End
--____--
14
BINA FISIK
Sabtu, 15 Juni 2013
16.00 – End
--____--
15
SIMULASI
Minggu, 16 Juni 2013
08.00 - End
--____--
16
Pengaplikasian Medan
Rabu – Kamis,
19 – 20 Juni 2013
-

17
Masa Tenggang
(Pembuatan Laporan)
21 – 28 Juni 2013
-

18
EVALUASI
Sabtu – Minggu,
29 – 30 Juni 2013
-


 NB         : - Schedule kegiatan sewaktu-waktu dapat berubah


3.2  Anggaran Dana
ALAT DAN BAHAN
JUMLAH
HARGA (Rp)
Botol Sampel
Termometer
Cool Box
Kantong Plastik
Tali Weebing
Roti Tawar
Susu Coklat
Latban
Tali Sechi Disk
Es batu
Garam
20 buah
1
1
5
1 (5 meter)
2 Bungkus
1 Kaleng
1
10 meter
1 Balok
2 Bungkus
Rp.  8.000
Rp. 13.000
Rp. 40.000
Rp. 10.000
Rp. 20.000
Rp. 14.000
Rp. 12.000
Rp. 12.000
Rp. 10.000
Rp.   5.000
Rp.   1.000
TOTAL
Rp. 145.000
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1     Sekilas Tentang Lokasi
                TamanPrasejarah Leang-Leang adalah objek wisata purbakala yang berada tidak jauh dari Taman Wisata Alam Bantimurung. Leang dalam bahasa Makassar berarti gua, dengan pengulangan kata berarti gua-gua atau kawasan gua. Sebab di daerah ini terdapat banyak gua peninggalan arkeologis yang sangat unik dan menarik.

                Meski wilayahnya sudah tidak termasuk dalam Desa Wisata Samangki, namun dapat disebut sebagai objek wisata daerah sekitar Samangki karena letaknya hanya berjarak sekitar 7.5 kilometer dari Samangki. Leang-leang terletak di Kelurahan Kalabirang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros.
                Menurut asumsi beberapa masyarakat setempat nama daerah tebing kura-kura adalah kampong cedde (cedde merupakan bahasa daerah yang berarti sedikit dalam bahasa indonesia) karena lokasi tersebut hanya dihuni oleh beberapa kepala keluarga. Berdasarkan pengamatan kami, pada daerah itu merupakan perairan tertutup, tidak terlalu disinari oleh sinar matahari karena ditutupi oleh daun rumbia, airnya tenang, dikelilingi tumbuhan hijau dan tebing.

IV.2     List Kegiatan
N0.
Hari/Tanggal
Pukul
Kegiatan


Kamis, 20 Juni 2013
06.00
Kumpul
07.30
Berangkat Menuju Lokasi
08.30
Tiba Di lokasi
08.40 – 09.10
Pembukaan SIP
10.00 – 13.00
Turun Di lapangan
13.00 – 14.00
Ishoma
14.00 – 17.00
Turun ke lapangan
17.00 – 19.30
Bersih-bersih dan ishoma
19.30 – 20.30
Makan Malam
20.30 – 23.00
Bersih-bersih dan ishoma
23.00 – 00.30
Makan Malam
00.30
Istirahat
2.
Jum’at, 21 Juni 2013
06.00
Bangun Pagi
06.30 – 07.00
Streching
07.00 – 08.00
Sarapan
08.00 – 10.00
Sosial Penduduk
10.00 – 11.00
Penutup
11.00 – 12.00
Back to campus
12.00 – 16.00
Kumpul di sekret







IV. 3.    Perolehan Data Dan Pembahasan
IV.3.1.     Pengolahan Data
Data pada sampel botol terang :
Station
Pukul
14.00
15.00
15.30
16.00
VT
VS
VT
VS
VT
VS
VT
VS
1
5,5 ml
100 ml






2


3 ml
100 ml




3




3,5 ml
100 ml


4






3,5 ml
100 ml

                Rumus                  O2 ppm =      1000 x 0,16 x VT
                                                                                       VS



Stasiun 1, pukul 14.00 :
O2 ppm =   1000 x 0,16 x VT1
                                                           VS1
O2 ppm =   1000 x 0,16 x 5,5
                                                           100
                                      = 8,8 ppm

Station 2, Pukul 15.00 :
O2 ppm =   1000 x 0,16 x VT2
                                                           VS2
O2 ppm =   1000 x 0,16 x 3
                                                           100
                                      = 4,8 ppm
Station 3, Pukul 15.30 :
O2 ppm =   1000 x 0,16 x VT3
                                                           VS3
O2 ppm =   1000 x 0,16 x 3,5
                                                           100
                                      = 5,6 ppm

Station 4, Pukul 16.00 :
O2 ppm =   1000 x 0,16 x VT4
                                                           VS4
O2 ppm =   1000 x 0,16 x 3,5
                                                           100
                                      = 5,6 ppm




Data pada sampel botol gelap
Station
Pukul
14.00
15.00
15.30
16.00



VT
VS
VT
VS
VT
VS
VT
VS
1
4 ml
100 ml






2


3,5 ml
100 ml




3




3,5 ml
100 ml


4






2,5 ml
100 ml



Rumus                  O2 ppm =      1000 x 0,16 x VT
                                                                                       VS



Stasiun 1, pukul 14.00 :
O2 ppm =   1000 x 0,16 x VT1
                                                           VS1
O2 ppm =   1000 x 0,16 x 4
                                                           100
                                      = 6,4 ppm

Station 2, Pukul 15.00 :
O2 ppm =   1000 x 0,16 x VT2
                                                           VS2
O2 ppm =   1000 x 0,16 x 3,5
                                                           100
                                      = 5,6 ppm
Station 3, Pukul 15.30 :
O2 ppm =   1000 x 0,16 x VT3
                                                           VS3
O2 ppm =   1000 x 0,16 x 3,5
                                                           100
                                      = 5,6 ppm

Station 4, Pukul 16.00 :
O2 ppm =   1000 x 0,16 x VT4
                                                           VS4
O2 ppm =   1000 x 0,16 x 2,5
                                                           100
                                      = 4 ppm






Station
Pukul
Sustation (T)
Suhu
Kecerahan
Kedalaman
D1
D2
1
14.00
1
28ºC
72 cm
68 cm
74 cm
2
27ºC
40 cm
30 cm
40 cm
3
28ºC
38 cm
30 cm
70 cm
2
15.00
1
27ºC
58 cm
48 cm
69 cm
2
28ºC
52 cm
41 cm
82 cm
3
27ºC
65 cm
47 cm
85 cm
3
15.30
1
29ºC
50 cm
25 cm
100 cm
2
28ºC
40 cm
18 cm
54 cm
3
28ºC
35 cm
25 cm
140 cm
4
16.00
1
27ºC
25 cm
12 cm
51 cm
2
27ºC
30 cm
20 cm
51 cm
3
27ºC
31 cm
21 cm
78 cm

                                                                                x  =    k1 + K2 + K3
                                                                                                      3


Suhu pada Station 1
x  =    K1 + K 2+ K3
                                   3
                 =   28 + 27 + 28
                                   3
                                 = 27,667
Suhu pada Station 2
x  =    K1 + K 2+ K3
                                   3
                 =   27 + 28 + 27
                                   3
                                 = 27,333
Suhu pada Station 3
x  =    K1 + K 2+ K3
                                   3
                 =   29 + 28 + 28
                                   3
                                 = 28,333
Suhu pada Station 4
x  =    K1 + K 2+ K3
                                   3
                 =   27 + 27 + 27
                                   3
                                 = 27



                                                                                D1 + D2
                                                                                      2


Kecerahan pada Station 1
Substaion 1        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      72 + 68                       
               2
 =  70 cm

= Kedalaman – Kecerahan
= 74 cm – 70 cm
= 4 cm

Masukkan Dalam Bentuk Persen
4    × 100 %   = 5, 4054 %
74

Substaion 2        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      40 + 30                       
               2
 =  35 cm

= Kedalaman – Kecerahan
= 40 cm – 35 cm
= 5 cm

Masukkan Dalam Bentuk Persen
5    × 100 %   = 12,5 %
40

Substaion 3        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      38 + 30                       
               2
 =  34 cm

= Kedalaman – Kecerahan
= 70 cm – 34 cm
= 36 cm

Masukkan Dalam Bentuk Persen
36    × 100 %   = 51, 4285 %
70

Kedalaman pada Station 2
Substaion 1        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      58 + 48                       
               2
 =  53 cm

= Kedalaman – Kecerahan
= 69 cm – 53 cm
= 16 cm

Masukkan Dalam Bentuk Persen
16     × 100 %   = 23, 1884 %
69

Substaion 2        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      52 + 41                       
               2
 =  46,5 cm

= Kedalaman – Kecerahan
= 82 cm – 46,5 cm
= 35,5 cm

Masukkan Dalam Bentuk Persen
35,5   × 100 %   = 43,2927 %
82
Substaion 3        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      65 + 47                       
               2
 =  56 cm

= Kedalaman – Kecerahan
= 85 cm – 56 cm
= 29 cm

Masukkan Dalam Bentuk Persen
29  × 100 %   = 34,1177 %
85
Kedalaman pada Station 3
Substaion 1        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      50 + 25                       
               2
 =  37,5 cm

= Kedalaman – Kecerahan
= 100 cm – 37,5 cm
= 62,5 cm

Masukkan Dalam Bentuk Persen
62,5   × 100 %   = 62,5 %
100

Substaion 2        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      40 + 18                       
               2
 =  29 cm
= Kedalaman – Kecerahan
= 54 cm – 29 cm
= 25 cm

Masukkan Dalam Bentuk Persen
   × 100 %   = 46, 2963 %
54

Substaion 3        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      35 + 25                       
               2
 =  30 cm

= Kedalaman – Kecerahan
= 140 cm – 30 cm
= 110 cm

Masukkan Dalam BentukPersen
  × 100 %   = 78, 5714 %
140
Kedalaman pada Station 4
Substaion 1        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      25 + 12                       
               2
 =  18,5 cm

= Kedalaman – Kecerahan
= 51 cm – 18,5 cm
= 32,5 cm

Masukkan Dalam Bentuk Persen
32,5  × 100 %   = 63, 7252 %
 51

Substaion 2        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      30 + 20                       
               2
 =  75 cm




= Kedalaman – Kecerahan
= 51 cm – 25 cm
= 26 cm

Masukkan Dalam Bentuk Persen
 26     × 100 %   = 50, 9803 %
51

Substaion 3        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      31 + 21                                       
               2
 =  26 cm

= Kedalaman – Kecerahan
= 78 cm – 26 cm
= 52 cm

Masukkan Dalam Bentuk Persen
52     × 100 %   = 66,6667 %
78






IV.3.2.     Pembahasan
Oksigen (O2)
Percobaan kali ini mengukur tentang parameter fisika dan kimia pada perairan, kelompok kami membahas tentang oksigen yang terlarut dalam suatu perairan.
Oksigen terlarut atau DO merupakan salah satu parameter penting dalam analisa kualitas air. Nilai DO yang biasanya diukur dalam bentuk konsentrasi ini menunjukkan jumlah oksigen yang tersedia dalam suatu badan air. Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar.
Di dalam air, oksigen memainkan peran penting, di tebing kura-kura, desa laeng-laeng memiliki Kualitas air yang bagus karena pada botol terang memiliki konsentrasi oksigen diatas 4 ppm yaitu pada station 1 pukul 14.00 = 8,8 ppm, station 3 pukul 15.30 = 5,6 ppm, staion 4 pukul 16.00 = 5,6 ppm, dan juga botol gelap pada station 1 pukul 14.00 = 6,4 ppm, station 2 pukul 15.00 = 5,6 ppm, station 3 pukul 15.30 = 5,6 ppm sehingga organisme mampu bertahan hidup dan memiliki nafsu makan yang baik.
Sedangkan pada botol terang station 2 pukul 15.00 = 4,8 ppm dan botol gelap station 4 pukul 16.00 = 4 ppm beberapa jenis organisme dapat bertahan hidup pada perairan dengan konsentrasi oksigen 3-4 ppm akan tetapi nafsu makannya rendah atau tidak sama sekali, sehingga pertumbuhannya menjadi terhambat. Bahkan organisme akan mati atau mengalami stres bila konsentrasi oksigen mencapai nol. Namun konsentasi minimum yang masih dapat di terima oleh sebagian besar spesies ikan untuk hidup dengan baik adalah 5 ppm.
Pada Uji Lab dengan bantuan bahan kimia seperti MnSO4 dan Kl botol terang yang dapat dilihat perubahan warnanya mengalami perubahan stelah di tambahkan 10 ml dari yang berwarna bening menjadi warna coklat pekat dan terlihat beberapa endapan. Tapi, setelah ditetes dengan H2SO4 terjadi perubahan warna dari warna coklat pekat yang terdapat endapan menjadi warna coklat bening. Dan setelah di tetesi dengan beberapa Na2SO4 warna sampel kembali ke warna yang sebelumnya.
suhu
Suhu yang baik untuk suatu  perairan khususnya perairan air tawar adalah pada kisaran suhu  20-30°C. Perubahan suhu di bawah 20°C atau di atas 30°C menyebabkan ikan mengalami stres yang biasanya diikuti oleh menurunnya daya cerna (Trubus Edisi 425, 2005). Jadi Suhu yag ada pada tebing kura-kura desa leang-leang sangat baik untuk kehidupam suatu organisme.
Kecerahan
Kecerahan pada perairan sungai sekitar tebing kura-kura  termasuk rendah karena dilihat secara fisik maupun di lihat dari sampel yang telah di analisa Pada station 1 dan substation 1 = 5, 4054 %, substation 2 = 12, 5%, substation 3 = 51, 2485%, Station 2 substation 1 = 23, 1884%, substation 2 = 43, 2927%, substation 3 = 34, 1177 %, pada station 3 substation 1 = 62,5 %, substation 2 = 46 2963  %, substation 3 = 78, 5714 %, pada station 4 substation 1 = 63, 7252 %, substation 2 = 50, 9803%, substation 3 = 66,6667 %. Dimana data tersebut menunjukkan kecerahan rata-rata perairan di tebing kura-kura di bawah 50 %.
IV.4.     Data sosiologi Fisik Dan Nonfisik
IV.4.1.    Data sosiologi Fisik















IV.4.1.    Data sosiologi Nonfisik 
                Setelah melakukan survey kepada penduduk, maka data yang kami peroleh sebagai berikut:
 Nama                   : Pak Halis
Umur                    : 46 tahun
Pekerjaan                           : Penjahit
Istri                        : Hadariah
Pekerjaan                           : URT
Ipar                        : Rohana
Pekerjaan                           : Pembuat anyaman
Kami tidak memperoleh Informasi dari keluarga ini tentang lokasi penelitin karena mereka tergolong sebagai keluarga pendatang.
Nama                    : Muh. Yahya
TTL                         : Maros/ 01 Januari 1951
Istri                        : Jumriah
Pekerjaan                           : Petani
Agama                  : Islam
Jumlah anak       : 8 Orang
Menurut bapak ini, tebing pada lokasi penelitian bernama tebing Ballangnge. Pada daerah ini tidak pernah kekeringan karena banyaknya mata air. Tradisi pada daerah ini yaitu adanya pesta panen tiap tahunnya sebagai tanda syukur para masyarakat atas hasil panen yang diperoleh. Keluarga ini juga pernah mendapat bantuan dari pemerintah berupa bibit ikan, namun bantuan tersebut diberikan kepada masyarakat yang lain karena keluarga ini memiliki keterbatasan dana untuk membuat kolam.
Nama                    : Pak Anwar
Pekerjaan                           : Usaha jahitan dan usaha di bengkel
Nama Istri                           : Badariah
Nama Anak         : Nur Indah
Umur                    : 33 Tahun
Pekerjaan           : Guru matematika di DDI Alori Tengngae sejak 2005-sekarang
Jumlah anak       : 3 orang
Keluarga ini tidak menceritakan keadaan lokasi secara spesifik, berhubung orang yang dimintai keterangan hanya dating ke Maros untuk berlibur.

                Data yang diperoleh dari kantor kelurahan adalah sebagai berikut:
Nama                    : A. Muh. Jufri, S.Sos
Pekerjaan                           : Instansi kelurahan        
                Data yang di peroleh dari bapak ini yaitu, mayoritas penduduknya memiliki pekerjaan sebagai petani, yang berjumlah sekitar kurang lebih 4000 orang, namun yang mendapatkan bantuan hanya sekitar 200 orang. Tradisi pada daerah ini yaitu adanya pesta panen yang dirayakan tiap tahun. Namun demikian, seiring dengan adanya perkembangan zaman, pesta panen yang merupakan suatu tradisi yang dulunya hampir seluruh masyarakat merayakan, kini tidak lagi. Di kelurahan ini terdapat pula 1 SMA, 3 SMP, 3 SD, dan 2 TK pada desa yang berbeda-beda.



BAB V
PENUTUP

V.1     Kesimpulan
Kisaran parameter suatu perairan berbeda-beda, dapat ditentukan berdasarkan kondisi wilayah perairan tersebut
Pengukuran yang digunakan menggunakan parameter fisika yakni: suhu dan kecerahan, sedangkan parameter kimia yakni: pH, O2, CO2, Nitrat, Posfat dan BOD.
Hasil yang berdasarkan teori berbeda dengan hasil yang didapatkan di lapangan, karena saat pengambilan sampel kurang efektif dan efesien sehingga terdapat kesalahan yang menyebabkan perbedaan tersebut. 
V.2     Saran
Untuk Kegiatan Studi Ilmiah Perairan :
Waktu Kegiatan harus on-time.
Barang – barang yang di gunakan sebaiknya di minimalisir.








Selasa, 11 Juni 2013

BUBU

Bubu adalah alat tangkap yang umum dikenal dikalangan nelayan, yang berupa jebakan, dan bersifat pasif. Bubu sering juga disebut perangkap “ traps “ dan penghadang “guiding barriers”. Alat ini berbentuk kurungan seperti ruangan tertutup sehingga ikan tidak dapat keluar. Bubu merupakan alat tangkap pasif, tradisional yang berupa perangkap ikan tersebut dari bubu, rotan, kawat, besi, jaring, kayu dan plastik yang dijalin sedemikian rupa sehingga ikan yang masuk tidak dapat keluar. Prinsip dasar dari bubu adalah menjebak penglihatan ikan sehingga ikan tersebut terperangkap di dalamnya, alat ini sering diberi nama ftshing pots atau fishing basket.(Brandt, 1984).
Bubu adalah perangkap yang mempunyai satu atau dua pintu masuk dan dapat diangkat ke beberapa daerah penangkapan dengan mudah, dengan atau tanpa perahu (Rumajar, 2002). Menurut Martasuganda, (2005)Teknologi penangkapan menggunakan bubu banyak dilakukan di negara­negara yang menengah maupun maju. Untuk skala kecil dan menengah banyak dilakukan di perairan pantai, hampir seluruh negara yang masih belum maju perikanannya, sedangkan untuk negara dengan sistem perikanan yang maju pengoperasiannya dilakukan dilepas pantai yang ditujukan untuk menangkap ikan-ikan dasar, kepiting, udang yang kedalamannya 20 m sampai dengan 700 m. Bubu skala kecil ditujukan untuk menagkap kepiting, udang, keong, dan ikan dasar di perairan yang tidak begitu dalam.
Subani dan Barus (1989), menyatakan bahwa Bentuk dari bubu bermacam-macam yaitu bubu berbentuk lipat, sangkar (cages), silinder (cylindrical), gendang, segitiga memanjakan (kubus), atau segi banyak, bulat setengah lingkaran dan lain-lainnya. Secara garis besar bubu terdiri dari badan (body), mulut (funnel) atau ijeb dan pintu. Badan bubu berupa rongga, tempat dimana ikan-ikan terkurung. Mulut bubu (funnel) berbentuk corong, merupakan pintu dimana ikan dapat masuk tapi tidak dapat keluar dan pintu bubu merupakan bagaian temapat pengambilan hasil tangkapan.
Menurut Brandt (1984), mengklasifikasi bubu menjadi beberapa jenis, yaitu :
1. Berdasarkan sifatnya sebagai tempat bersembunyi / berlindung :
a.  Perangkap menyerupai sisir (brush trap)
b. Perangkap bentuk pipa (eel tubes)
c.  Perangkap cumi-cumi berbentuk pots (octoaupuspots)
2. Berdasarkan sifatnya sebagai penghalang
a.  Perangkap yang terdapat dinding / bendungan
b. Perangkap dengan pagar-pagar (fences)
c.  Perangkap dengan jeruji (grating)
d. Ruangan yang dapat terlihat ketika ikan masuk (watched chambers)
3. Berdasarkan sifatnya sebagai penutup mekanis bila tersentuh
a.  Perangkap kotak (box trap)
b. Perangkap dengan lengkungan batang (bend rod trap)
c. Perangkap bertegangan (torsion trap)
4. Berdasarkan dari bahan pembuatnya
a.  Perangkap dari bahan alam (genuine tubular traps)
b.  Perangkap dari alam (smooth tubular)
c. Perangkap kerangka berduri (throrrea line trap)
5. Berdasarkan ukuran, tiga dimensi dan dilerfgkapi dengan penghalang
a. Perangkap bentuk jambangan bunga (pots)
b. Perangkap bentuk kerucut (conice)
c.  Perangkap berangka besi

5.1.1.  Klasifikasi Bubu menurut cara operasinya
Dalam operasionalnya, bubu terdiri dari tiga jenis, yaitu :
1.  Bubu Dasar (Ground Fish Pots).: Bubu yang daerah operasionalnya berada di dasar perairan. Untuk bubu dasar, ukuran bubu dasar bervariasi, menurut besar kecilnya yang dibuat menurut kebutuhan. Untuk bubu kecil, umumnya berukuran panjang 1m, lebar 50-75 cm, tinggi 25-30 cm. untuk bubu besar dapat mencapai ukuran panjang 3,5 m, lebar 2 m, tinggi 75-100 cm. Hasil tangkapan dengan bubu dasar umumnya terdiri dari jenis-jenis ikan, udang kualitas baik, seperti Kwe (Caranx spp), Baronang (Siganus spp), Kerapu (Epinephelus spp), Kakap ( Lutjanus spp), kakatua (Scarus spp), Ekor kuning (Caeslo spp), Ikan Kaji (Diagramma spp), Lencam (Lethrinus spp), udang penaeld, udang barong, kepiting, rajungan, dll (Anonim. 2007).
2. Bubu Apung (Floating Fish Pots): Bubu yang dalam operasional penangkapannya diapungkan. Tipe bubu apung berbeda dengan bubu dasar. Bentuk bubu apung ini bisa silindris, bisa juga menyerupai kurung-kurung atau kantong yang disebut sero gantung. Bubu apung dilengkapi dengan pelampung dari bambu atau rakit bambu yang penggunaannya ada yang diletakkan tepat di bagian atasnya. Hasil tangkapan bubu apung adalah jenis-jenis ikan pelagik, seperti tembang, japuh, julung-julung, torani, kembung, selar, dll. Pengoperasian Bubu apung dilengkapi pelampung dari bambu atau rakit bambu, dilabuh melalui tali panjang dan dihubungkan dengan jangkar. Panjang tali disesuaikan dengan kedalaman air, umumnya 1,5 kali dari kedalaman air, (Anonim. 2007).
3.      Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots) : Bubu yang dalam operasional penangkapannya dihanyutkan. Bubu hanyut atau “ pakaja “ termasuk bubu ukuran kecil, berbentuk silindris, panjang 0,75 m, diameter 0,4-0,5 m. Hasil tangkapan bubu hanyut adalah ikan torani, ikan terbang (flying fish). Pada waktu penangkapan, bubu hanyut diatur dalam kelompok-kelompok yang kemudian dirangkaikan dengan kelompok-kelompok berikutnya sehingga jumlahnya banyak, antara 20-30 buah, tergantung besar kecil perahu/kapal yang digunakan dalam penangkapan (Anonim. 2007).
Operasi penangkapan dilakukan sebagai berikut :
1.       Pada sekeliling bubu diikatkan rumput laut.
2.       Bubu disusun dalam 3 kelompok yang saling berhubungan melalui tali penonda (drifting line). Penyusunan kelompok (contohnya ada 20 buah bubu) : 10 buah diikatkan pada ujung tali penonda terakhir, kemudian kelompok berikutnya terdiri dari 8 buah dan selanjutnya 4 buah, lalu disambung dengan tali penonda yang langsung diikatkan dengan perahu penangkap dan diulur sampai ± antara 60 -150 m (Anonim. 2007).
Disamping ketiga bubu yang disebutkan di atas, terdapat beberapa jenis bubu yang lain seperti :
1.      Bubu Jermal : Termasuk jermal besar yang merupakan perangkap pasang surut (tidal trap).
2.      Bubu Ambai.: Disebut juga ambai benar, bubu tiang, termasuk pasang surut ukuran kecil.
3.      Bubu Apolo.:Hampir sama dengan bubu ambai, bedanya ia mempunyai 2 kantong, khusus menangkap udang rebon.
5.1.1.1.  Bubu Ambai
Bubu ambai termasuk perangkap pasang surut berukuran kecil, panjang keseluruhan antara 7-7,5 m. bahan jaring yaitu terbuat dari nilon (polyfilament). Jaring ambai terdiri dari empat bagian menurut besar kecilnya mata jaring, yaitu bagian muka, bagian tengah, bagian belakang dan bagian kantung. Mulut jaring ada yang berbentuk bulat, ada juga yang berbentuk empat persegi berukuran 2,6 x 4,7 m. pada kanan-kiri mulut terdapat gelang, terbuat dari rotan maupun besi yang jumlahnya 2-4 buah. Gelang- gelang tersebut dimasukkan dalam banyaknya jaring ambai dan dipasang melintang memotong jurusan arus. Satu deretan ambai terdiri dari 10-22 buah yang merupakan satu unit, bahkan ada yang mencapai 60-100 buah/unit. Hasil tangkapan bubu ambai bervariasi menurut besar kecilnya mata jaring yang digunakan. Namun, pada umumnya hasil tangkapannya adalah jenis-jenis udang (Subani dan Barus, 1989).
5.1.1.2.  Bubu Apolo
Bahan jaring dibuat dari benang nilon halus yang terdiri dari bagian mulut, bagian badan, kaki dan bagian kantung. Panjang jaring keseluruhan mencapai 11 m. Mulut jaring berbentuk empat persegi dengan lekukan bagian kiri dan kanan. Panjang badan 3,75 m, kaki 7,25 m dan lebar 0,60 m. pada ujug kaki terdapat mestak yang diikuti oleh adanya dua kantung yang panjangnya 1,60 m dan lebar 0,60 m. Hasil tangkapan bubu apolo sama dengan hasil tangkapan dengan menggunakan bubu ambai, yakni jenis-jenis udang (Subani dan Barus, 1989).
1.1.1.3.  Konstruksi Bubu
Menurut Subani dan Barus. (1999), Bentuk bubu bervariasi. Ada yang seperti sangkar (cages), silinder (cylindrical),gendang, segitiga memanjang (kubus) atau segi banyak, bulat setengah lingkaran, dll. Bahan bubu umumnya dari anyaman bambu (bamboo`s splitting or-screen). Secara umum, bubu terdiri dari bagian-bagian badan (body), mulut (funnel) atau ijeh, pintu.
-  Badan (body): Berupa rongga, tempat dimana ikan-ikan terkurung.
-  Mulut (funnel): Berbentuk seperti corong, merupakan pintu dimana ikan dapat masuk tidak dapat keluar.
-  Pintu : Bagian tempat pengambilan hasil tangkapan.
1.1.1.4.  Daerah Penangkapan
1.  Bubu Dasar (Ground Fish Pots)
Dalam operasi penangkapan, bubu dasar biasanya dilakukan di perairan karang atau diantara karang-karang atau bebatuan (Anonim, 2006)
2.  Bubu Apung (Floating Fish Pots)
Dalam operasi penangkapan, bubu apung dihubungkan dengan tali yang disesuaikan dengan kedalaman tali, yang biasanya dipasang pada kedalaman 1,5 kali dari kedalaman air (Anonim, 2006).
3.  Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots)
Dalam operasi penangkapan, bubu hanyut ini sesuai dengan namanya yaitu dengan menghanyutkan ke dalam air (Anonim, 2006).
4.  Bubu Jermal dan Bubu Apolo
Dalam operasi penangkapan, kedua bubu di atas diletakkan pada daerah pasang surut (tidal trap). Umumnya dioperasikan di daerah perairan Sumatera (Anonim, 2006).
5.  Bubu Ambai
Lokasi penangkapan dengan bubu ambai dilakukan pada jarak antara 1-2 mil dari pantai (Anonim, 2006).
1.2.      Teknik Pengoperasian Alat Tangkap Bubu
Menurut BPPI (1996), alat tangkap bubu lebih cocok dioperasikan di perairan dangkal, berkarang clan berpasir dengan keadalaman 2-7 m karena umumnya terbuat dari bambu. Bubu diletakkan pada celah karang untuk menghadang ikan yang keluar dari celah karang clan posisi mulutnya harus menghadap ke hilir mudik ikan yang berada di perairan karang.
Metode pengoperasian untuk semua jenis bubu biasannya sama, yaitu dipasang di daerah penangkapan yang sudah diperkirakan adanya stok ikan seperti ikan dasar, udang, kepiting, keong, cumi-cumi dan biota lainnya yang bisa ditangkap oleh bubu. Pemasangan bubu ada yang dipasa       secara tunggal dan juga ada yang beruntai (seperti pemasangan, rawai). Ditambahkan menurut Direktorat Jendral Perikanan (1997), cara pengoperasiaan bubu dapat dimulai antara lain pemberian umpan, selanjutnya perahu berangkat menuju daerah operasi (fishing Xrouncl) sambil mengamati kondisi perairan. Bubu dipasang di perairan karang dan merupakan habitat ikan karang. Kemudian pengangkatan bubu harus dilakukan dengan perlahan-lahan untuk memberikan kesempatan ikan dalam beradaptasi terhadap perbedaan tekanan air dalam perairan. Cara pertama, bubu dipasang secara terpisah (umumnya bubu berukuran besar), satu bubu dengan satu pelampung. Cara kedua dipasang secara bergandengan (umumnya bubu ukuran kecil sampai sedang) dengan menggunakan tail utama, sehingga cara ini dinamakan "longline trap". Untuk cara kedua ini dapat dioperasikan beberapa bubu sampai puluhan bahkan ratusan bubu. Biasanya dioperasikan dengan menggunakan kapal yang bermesin serta dilengkapi dengan katrol. Tempat pemasangan bubu dasar biasanya dilakukan di perairan karang atau diantara pemasangan bubu dasar biasanya dilakukan di perairan karang atau diantara karang-karang atau bebatuan.

Menurut Martasuganda (2002), waktu pemasangan (setting) dan pengangkatan (hauling) ada yang dilakukan pagi hari, siang hari, sore hari, sebelum matahari tenggelam. Lama perendaman bubu di perairan ada yang hanya direndam beberapa jam, ada yang direndam satu malam, ada juga yang direndam tiga sampai dengan empat hari.

Payang

Payang adalah termasuk alat penangkap ikan yang sudah lama dikenal nelayan Indonesia. Payang adalah pukat kantong yang digunakan untuk menangkap gerombolan ikan permukaan (pelagic fish). Kedua sayapnya berguna untuk menakut-nakuti atau mengejutkan serta menggiring ikan untuk masuk ke dalam kantong. Cara operasinya adalah dengan melingkari gerombolan ikan dan kemudian pukat kantong tersebut ditarik ke arah kapal.


Payang hampir dikenal di seluruh daerah perikanan laut Indonesia dengan nama yang berbeda-beda, antara lain: payang (Jakarta, Tegal, Pekalongan, Batang dan daerah lain di pantai utara Jawa), payang uras (Selat Bali dan sekitarnya), payang ronggeng (Bali Utara), payang gerut (Bawean), payang puger (daerah Puger), payang jabur (Padelengan/ Madura, Lampung), pukat nike (Gorontalo), pukat banting Aceh (Sumatera Utara, Aceh), pukat tengah (Sumatera Barat: Pariaman, Sungai Limau, Perairan Tiku), jala lompo (Kaltim, Sulsel), panja/pajala (Muna, Buton, Luwuk, Banggai), pukat buton (Air Tembaga, Gorontalo, Manokwari, Kupang, Kalabai, Kendari, Flores), jala uras (Sumbawa, Manggarai/Flores).


Konstruksi
Payang adalah pukat kantong lingkar yang secara garis besar terdiri dari bagian kantong (bag), badan/ perut (body/belly) dan kaki/ sayap (leg/wing). Namun ada juga pendapat yang membagi hanya menjadi 2 bagian, yaitu kantong dan kaki. Bagian kantong umumnya terdiri dari bagian-bagian kecil yang tiap bagian mempunyai nama sendiri-sendiri. Namun bagian-bagian ini untuk tiap daerah umumnya berbeda-beda sesuai daerah masing-masing.

Besar mata mulai dari ujung kantong sampai dengan ujung kaki berbeda-beda, bervariasi mulai dari 1 cm (atau kadang kurang) sampai ± 40 cm. Berbeda dengan jaring trawl di mana bagian bawah mulut jaring (bibir bawah/underlip) lebih menonjol ke belakang, maka untuk payang justru bagian atas mulut jaring (upperlip) yang menonjol ke belakang. Hal ini dikarenakan payang tersebut umumnya digunakan untuk menangkap jenis-jenis ikan pelagik yang biasanya hidup dibagian lapisan atas air atau kurang Iebih demikian dan mempunyai sifat cenderung lari ke lapisan bawah bila telah terkurung jaring. Oleh karena bagian bawah mulut jaring lebih menonjol ke depan maka kesempatan lolos menjadi terhalang dan akhirnya masuk ke dalam kantong jaring.

Pada bagian bawah kaki/sayap dan mulut jaring diberi pemberat. Sedangkan bagian atas pada jarak tertentu diberi pelampung. Pelampung yang berukuran paling besar ditempatkan di bagian tengah dan mulut jaring. Pada kedua ujung depan kaki/sayap disambung dengan tali panjang yang umumnya disebut tali selambar (tali hela/tali tarik).

Metode pengoperasian
Penangkapan dengan jaring payang dapat dilakukan baik pada malam maupun siang hari. Untuk malam hari terutama pada hari-hari gelap (tidak dalam keadaan terang bulan) dengan menggunakan alat bantu lampu petromaks (kerosene pressure lamp). Sedang penangkapan yang dilakukan pada siang hari menggunakan alat bantu rumpon/payaos (fish aggregating device) atau kadang kala tanpa alat bantu rumpon, yaitu dengan cara menduga-duga ditempat yang dikira banyak ikan atau mencari gerombolan ikan. Kalau gerombolan ikan yang diburu tadi kebetulan tongkol dalam penangkapan ini disebut oyokan tongkol. Penggunaan rumpon untuk alat bantu penangkapan dengan payang meliputi 95% lebih.
Penangkapan dengan payang dan sejenisnya ini dapat dilakukan baik dengan perahu layar maupun dengan kapal motor. Penggunaan tenaga berkisar antara 6 orang untuk payang berukuran kecil dan 16 orang untuk payang besar.

Daerah penangkapan
Daerah penangkapan dan payang ini pada perairan yang tidak terlalu jauh dan pantai atau daerah subur yang tidak terdapat karang. Hasil tangkapan terutama jenis-jenis pelagik kecil (layang, solar, kembung, lemuru, tembang japuh dan lain-lain). Hasil tangkapan sangat tergantung keadaan daerah dan banyak sedikitnya ikan yang berkumpul disekitar rumpon.

Musim penangkapan
Musim penangkapan dan payang ini sepanjang tahun, kecuali pada saat-saat tertentu di mana cuaca tidak memungkinkan seperti pada saat musim barat.

Pemeliharaan alat
Pemeliharaan alat tangkap sebaiknya setelah alat dipakai dicuci dengan air tawar, bagian yang rusak diperbaiki, dikeringkan di tempat yang tidak kena sinar matahari secara langsung dan disimpan ditempat yang bersih.

Pengadaan alat dan bahan jaring
Alat dan bahan jaring bisa diperoleh di semua toko penlengkapan nelayan di lokasi terdekat atau bisa dipesan dan pabnik janing “PT. Anida” di Cirebon atau “PT Indoneptun” di Ranca Ekek Bandung. Payang termasuk alat yang produktifitasnya tinggi dan dikenal hampir diseluruh daerah perikanan laut Indonesia, namun yang paling banyak adalah di pantai utara Jawa termasuk Madura, Sulawesi Selatan dan Tenggara.

Kisaran harga satuan peralatan

untuk wilayah kabupaten Mukomuko memang belum begitu ada perusahaan khusus yang menjual jenis alat tangkap tersebut, karena kebiasaan masyarakat di sekitarnya untuk pengadaan alat tangkap payang biasa membuat secara royongan , namun demikian  kisaran modal untuk pembuatan alat tersebut masih hampir sama kurang lebihnya dan tidak terlalu jauh .tapi sebagai informasi dari Dit.PKP Kisaran harga 1 unit alat tangkap payang Rp. 5,000,000-Rp. 7,000,000.-. Kisaran harga kapal termasuk mesin Rp. 15,000,000-20,000,000.-.

Cantrang

Definisi Alat Tangkap Cantrang : George et al, (1953) dalam Subani dan Barus (1989). Alat tangkap cantrang dalam pengertian umum digolongkan pada kelompok Danish Seine yang terdapat di Eropa dan beberapa di Amerika. Dilihat dari bentuknya alat tangkap tersebut menyerupai payang tetapi ukurannya lebih kecil.
Cantrang merupakan alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan demersal yang dilengkapi dua tali penarik yang cukup panjang yang dikaitkan pada ujung sayap jaring. Bagian utama dari alat tangkap ini terdiri dari kantong, badan, sayap atau kaki, mulut jaring, tali penarik (warp), pelampung dam pemberat.
Sejarah Alat tangkap Cantrang
Danish seine merupakan salah satu jenis alat tangkap dengan metode penangkapannya tanpa menggunakan otterboards, jaring dapat ditarik menyusuri dasar laut dengan menggunakan satu kapal. Pada saat penarikan kapal dapat ditambat (Anchor Seining) atau tanpa ditambat (Fly Dragging). Pada anchor seining,

para awak kapal akan merasa lebih nyaman pada waktu bekerja di dek dibandingkan Fly dragging. Kelebihan fly dragging adalah alat ini akan memerlukan sedikit waktu untuk pindah ke fishing ground lain dibandingkan Anchor seining (Dickson, 1959).

Setelah perang dunia pertama, anchor seining dipakai nelayan Inggris yang sebelumnya menggunakan alat tangkap Trawl. Dari tahun 1930 para nelayan Skotlandia dengan kapal yang berkekuatan lebih besar dan lebih berpengalaman menyingkat waktu dan masalah pada anchor seining pada setiap penarikan alat dengan mengembangkan modifikasi operasi dengan istilah Fly Dragging atau Scotish Seining. Pada Fly Dragging kapal tetap berjalan selagi penarikan jaring dilakukan.

Dilihat dari bentuknya alat tangkap cantrang menterupai payang tetapi ukurannya lebih kecil. Dilihat dari fungsi dan hasil tangkapannya cantrang menyerupai trawl, yaitu untuk menangkap sumberdaya perikanan demersal terutama ikan dan udang.

Dibanding trawl, cantrang mempunyai bentuk yang lebih sederhana dan pada waktu penankapannya hanya menggunakan perahu motor ukuran kecil. Ditinjau dari keaktifan alat yang hampir sama dengan trawl maka cantrang adalah alat tangkap yang lebih memungkinkan untuk menggantikan trawl sebagai sarana untuk memanfaatkan sumberdaya perikanan demersal. Di Indonesia cantrang banyak digunakan oleh nelayan pantai utara Jawa Timur dan Jawa Tengah terutama bagian utara (Subani dan Barus, 1989)

Prospektif Alat Tangkap Cantrang
Setelah dikeluarkannya KEPRES tentang pelarangan penggunaan alat tangkap Trawl di Indonesia tahun 1980, maka cantrang banyak dipilih nelayan untuk menangkap ikan demersal, karena dilihat dari fungsi dan hasil tangkapannya cantrang ini hampir memiliki kesamaan dengan jaring trawl.


B. KONSTRUKSI ALAT TANGKAP CANTRANG
Konstruksi Umum
Dari segi bentuk (konstruksi) cantrang ini terdiri dari bagian-bagian :

Kantong (Cod End)
Kantong merupakan bagaian dari jarring yang merupakan tempat terkumpulnya hasil tangkapan. Pada ujung kantong diikat dengan tali untuk menjaga agar hasil tangkapan tidak mudah lolos (terlepas).

Badan (Body)
Merupakan bagian terbesar dari jaring, terletak antara sayap dan kantong. Bagian ini berfungsi untuk menghubungkan bagian sayap dan kantong untuk menampung jenis ikan-ikan dasar dan udang sebelum masuk ke dalam kantong. Badan tediri atas bagian-bagian kecil yang ukuran mata jaringnya berbeda-beda.

Sayap (Wing).
Sayap atau kaki adalah bagian jaring yang merupakan sambungan atau perpanjangan badan sampai tali salambar. Fungsi sayap adalah untuk menghadang dan mengarahkan ikan supaya masuk ke dalam kantong.


Mulut (Mouth)
Alat cantrang memiliki bibir atas dan bibir bawah yang berkedudukan sama. Pada mulut jaring terdapat:

Pelampung (float): tujuan umum penggunan pelampung adalah untuk memberikan daya apung pada alat tangkap cantrang yang dipasang pada bagian tali ris atas (bibir atas jaring) sehingga mulut jaring dapat terbuka.

Pemberat (Sinker): dipasang pada tali ris bagian bawah dengan tujuan agar bagian-bagian yang dipasangi pemberat ini cepat tenggelam dan tetap berada pada posisinya (dasar perairan) walaupun mendapat pengaruh dari arus.

Tali Ris Atas (Head Rope) : berfungsi sebagai tempat mengikatkan bagian sayap jaring, badan jaring (bagian bibir atas) dan pelampung.

Tali Ris Bawah (Ground Rope) : berfungsi sebagai tempat mengikatkan bagian sayap jaring, bagian badan jaring (bagian bibir bawah) jaring dan pemberat.
Tali Penarik (Warp) :Berfungsi untuk menarik jarring selama di operasikan.


Karakteristik
Menurut George et al, (1953) dalam Subani dan Barus (1989). Dilihat dari bentuknya alat tangkap cantrang menyerupai payang tetapi ukurannya lebih kecil. Dilihat dari fungsi dan hasil tangkapan cantrang menyerupai trawl yaitu untuk menangkap sumberdaya perikanan demersal terutama ikan dan udang, tetapi bentuknya lebih sederhana dan pada waktu penangkapannya hanya menggunakan perahu layar atau kapal motor kecil sampai sedang. Kemudian bagian bibir atas dan bibir bawah pada Cantrang berukuran sama panjang atau kurang lebih demikian. Panjang jarring mulai dari ujung belakang kantong sampai pada ujung kaki sekitar 8-12 m.


Bahan Dan Spesifikasinya
a.    Kantong : Bahan terbuat dari polyethylene. Ukuran mata jaring pada bagian kantong 1 inchi.
b.    badan : Terbuat dari polyethylene dan ukuran mata jaring minimum 1,5 inchi.
c.    Sayap : Sayap terbuat dari polyethylene dengan ukuran mata jaring sebesar 5 inchi.
d.    Pemberat : Bahan pemberat terbuat dari timah atau bahan lain.
e.    Tali ris atas : Terbuat dari tali dengan bahan polyethylene.
f.    Tali ris bawah : Terbuat dari tali dengan bahan polyethylene.
g.    Tali penarik : Terbuat dari tali dengan bahan polyethylene dengan diameter 1 inchi.


HASIL TANGKAPAN
Hasil tangkapan dengan jaring Cantrang pada dasarnya yang tertangkap adalah jenis ikan dasar (demersal) dan udand seperti ikan petek, biji nangka, gulamah, kerapu, sebelah, pari, cucut, gurita, bloso dan macam-macam udang (Subani dan Barus, 1989).

DAERAH PENANGKAPAN
langkah awal dalam pengperasian alat tangkap ini adalah mencari daerah penangkapan (Fishing Ground). Menurut Damanhuri (1980), suatau perairan dikatakan sebagai daerah penangkapan ikan yang baik apabila memenuhi persyaratan dibawah ini:


Di daerah tersebut terdapat ikan yang melimpah sepanjang tahun.
Alat tangkap dapat dioperasikan denagn mudah dan sempurna.
Lokasi tidak jauh dari pelabuhan sehingga mudah dijangkau oleh perahu.
Keadaan daerahnya aman, tidak biasa dilalui angin kencang dan bukan daerah badai yang membahayakan.

Penentuan daerah penangkapan dengan alat tangkap Cantrang hampir sama dengan Bottom Trawl. Menurut Ayodhyoa (1975), syarat-syarat Fishing Ground bagi bottom trawl antara lain adalah sebagai berikut:



Karena jaring ditarik pada dasar laut, maka perlu jika dasar laut tersebut terdiri dari pasir ataupun Lumpur, tidak berbatu karang, tidak terdapat benda-benda yang mungkin akan menyangkut ketika jaring ditarik, misalnya kapal yang tengelam, bekas-bekas tiang dan sebagainya.

Dasar perairan mendatar, tidak terdapat perbedaan depth yang sangat menyolok.
Perairan mempunyai daya produktivitas yang besar serta resources yang melimpah.


ALAT BANTU PENANGKAPAN
Alat bantu penangkapan cantrang adalah GARDEN. (Mohammad et al. 1997) dengan alat bantu garden untuk menarik warp memungkinkan penarikan jaring lebih cepat. Penggunaan garden tersebut dimaksudkan agar pekerjaan anak buah kapal (ABK) lebih ringan, disamping lebih banyak ikan yang terjaring sebagai hasil tangkapan dapat lebih ditingkatkan.

Gardanisasi alat tangkap cantrang telah membuka peluang baru bagi perkembangan penangkapan ikan, yaitu dengan pemakaian mesin kapal dan ukuran jaring yang lebih besar untuk di operasikan di perairan yang lebih luas dan lebih dalam.


TEKNIK OPERASI (SETTING dan HOULING)
Persiapan
Operasi penangkapan dilakukan pagi hari setelah keadaan terang. Setelah ditentukan fishing ground nelayan mulai mempersiapkan operasi penangkapan dengan meneliti bagian-bagian alat tangkap, mengikat tali selambar dengan sayap jaring.


Setting
Sebelum dilakukan penebaran jaring terlebih dahulu diperhatikan terlebih dahulu arah mata angin dan arus. Kedua faktor ini perlu diperhatikan karena arah angin akan mempengaruhi pergerakan kapal, sedang arus akan mempengaruhi pergerakan ikan dan alat tangkap. Ikan biasanya akan bergerak melawan arah arus sehingga mulut jaring harus menentang pergerakan dari ikan.

Untuk mendapatkan luas area sebesar mungkin maka dalam melakukan penebaran jaring dengan membentuk lingkaran dan jaring ditebar dari lambung kapal, dimulai dengan penurunan pelampung tanda yang berfungsi untuk memudahkan pengambilan tali selambar pada saat akan dilakukan hauling. Setelah pelampung tanda diturunkan kemudian tali salambar kanan diturunkan → sayap sebelah kanan → badan sebelah kanan → kantong →badan sebelah kiri → sayap sebelah kiri → salah satu ujung tali salambar kiri yang tidak terikat dengan sayap dililitkan pada gardan sebelah kiri. Pada saat melakukan setting kapal bergerak melingkar menuju pelampung tanda.


Hauling
Setelah proses setting selesai, terlebih dahulu jarring dibiarkan selam ± 10 menit untuk memberi kesempatan tali salambar mencapai dasar perairan. Kapal pada saat hauling tetap berjalan dengan kecepatan lambat. Hal ini dilakukan agar pada saat penarikan jaring, kapal tidak bergerak mundur karena berat jaring. Penarikan alat tangkap dibantu dengan alat gardan sehingga akan lebih menghemat tenaga, selain itu keseimbangan antara badan kapal sebelah kanan dan kiri kapal lebih terjamin karena kecepatan penarikan tali salambar sama dan pada waktu yang bersamaan. Dengan adanya penarikan ini maka kedua tali penarik dan sayap akan bergerak saling mendekat dan mengejutkan ikan serta menggiringnya masuk kedalam kantong jaring.
Setelah diperkirakan tali salambar telah mencapai dasar perairan maka secepat mungkin dilakukan hauling. Pertama-tama pelampung tanda dinaikkan ke atas kapal → tali salambar sebelah kanan yang telah ditarik ujungnya dililitkan pada gardan sebelah kanan → mesin gardan mulai dinyalakan bersamaan dengan mesin pendorong utama hingga kapal bergerak berlahan-lahan → jaring mulai ditarik → tali salambar digulung dengan baik saat setelah naik keatas kapal → sayap jaring naik keatas kapal → mesin gardan dimatikan → bagian jaring sebelah kiri dipindahkan kesebelah kanan kapal → jaring ditarik keatas kapal →badan jaring → kantong yang berisi hasil tangkapan dinaikkan keatas kapal. Dengan dinaikkannya hasil tangkapan maka proses hauling selesai dilakukan dan jaring kembali ditata seperti keadaan semula, sehingga pada saat melakukan setting selanjutnya tidak mengalami kesulitan.
HAL-HAL YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PENANGKAPAN
Kecepatan dalam menarik jaring pada waktu operasi penangkapan.
Arus : Arus akan mempengaruhi pergerakan ikan dan alat tangkap. Ikan biasanya akan bergerak melawan arah arus sehingga mulut jaring harus menentang pergerakan dari ikan.
Arah angin

Arah angin akan mempengaruhi pergerakan kapal pada saat operasi penangkapan dilakukan.

Minggu, 02 Juni 2013

Kunjungan menarik di barru

Pada hari sabtu, 1 juni 2013, saya bersama teman-teman saya jurusan perikanan, pergi ke barru untuk melakukan bakti sosial dan pengenalan lapangan perikanan. kami berangkat pada pukul 08:00 pagi dengan mengendarai bus, dimana kami mengguanakan 4 bus untuk mengangkut kami semua. Dalam perjalanan banyak hal-hal menarik yang saya temui seperti melihat pemandangan alam yang laur biasa indahnya dan paling menarik yaitu bernyanyi bersama kawan-kawan dalam bus. namun karena kami tidak sempat sarapan pagi maka ditengah-tengah perjalanan kami terasa lemas karena kelaparan, akhirnya ketika berada di pangkep kami berhenti di sebuah warung makan "sabar menunggu". kami kemudian mengumpulkan uang untuk membayar seporsi nasi ikan bakar ditambah sup-nya dengan harga Rp.15.000. jika dibandingkan dengan warsis/ warung makan kami biasanya dikampus sangatlah jelas perbedaannya mulai banyak nya nasi dan harga pastilah lebih baik warsis.
Setelah selesai makan kami kemudian kembali melanjutkan perjalanan ke barru hingga akhirnya kami tiba di barru desa lawallu, kecamatan soppeng riaja. Melihat keadaan disaan sungguh menabjubkan,karena penduduk disana memiliki mata pencahrian di laut dan juga didarat. Saya rasa penduduk disini kehidupannya bisa dikatakan bahagia. mengingat akan tujuan kunjungan kami disana, kami kemudian memulia kegiatan kami setelah beristirahat sekitar 1 jam.dalam kegiatan itu kami harus melakukan pengamatan mengenai perikanan. kami pun memulai dengan mewancarai seorang nelayan yang sedang berada di dermaga.kami kemudian mengujukan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan materi penangkapan ikan. setelah itu kami kemudian ke tambak untuk mengetahui bagaimana kondisi tempat budidaya tersebut dan setelah itu kami ke daerah magrove yang berhubungan dengan manjemen sd perairan. setelah itu pengamatan terakhir kami mengenai sosial ekonomi masyarakat sekitar. Malam harinya saya merangkum hasil penelitian yang telah kami lakukan siang hingga sore tadi. keesokan harinya di pagi hari kami akan melakukan bakti sosial dengan penanaman mangrove. saya cukup kelelahan karena daerah tempat untuk menanam mangrove cukup jauh. Akan tetapi setelah sampai di tujuan, kekuatan saya kembali utuh dan kembali bersemangat dan saya kemudian mulai menanam mangrove. saya berharap agar mangrove yang saya tanam itu dapat tumbuh dengan baik dan menjaga keindahan alam di sana. Akhirnya setelah itu dan semua kegiatan ditutup dengan kegiatan penutupan kami kemudian kembali ke bus untuk menuju ke unhas tempat kami berangkat.

Lampara

Lampara
Selasa, Maret 22, 2011  alat tangkap ikan 
1. Definisi dan Klasifikasi
    Lampara adalah alat penangkapan ikan yang sekilas memang mirip dengan payang. Lampara terbuat dari jaring yang berbentuk persegi empat akan tetapi bagian tengah lebih lebar, terdiri dari sayap dan kantong. Kantong pada lampara tidak lancip tetapi menggelembung. Lampara termasuk dalam klasifikasi pukat kantong, karena lampara seolah-olah memiliki kantong yang menggelembung (Subani Barus 1989).

2. Konstruksi Lampara
    Konstruksi lampara terdiri dari tali ris atas dan tali ris bawah. Tali ris atas dan tali ris bawah dipasang dari ujung sayap kiri sampai ujung sayap kanan. Tali ris
atas terdiri dari dua tali yaitu tali pelampung dan tali samping pelampung. Begitu juga dengan tali ris bawah terdiri dari tali pemberat dan tali samping pemberat.
Sayap berfungsi sebagai penghalau ikan agar tidak menjauh. Sayap terdiri dari terdiri dari sayap kanan dan sayap kiri. Tali selambar terdiri dari tali selambar kiri dan kanan. Tali selambar berfungsi untuk menarik jaring. Panjang tali selambar kira-kira 100-150 meter. Tali pelampung tanda berfungsi untuk menjaga agar pelampung tanda tidak terbawa oleh arus atau ombak.
    Pelampung dan pemberat berfungsi untuk menjaga agar mulut jaring terbuka secara vertikal. Pelampung mengangkat tali ris atas ke atas, dan pemberat menarik tali ris bawah ke bawah. Kantong, pada lampara kantong tidak berbentuk mengerucut tetapi menggelembung. Kantong berfungsi sebagai tempat berkumpulnya ikan-ikan yang tertangkap.

3.Kelengkapan alat dalam unit penangkapan ikan
3.1 Kapal
      Dalam mengoperasikan lampara ada nelayan yang hanya menggunakan satu kapal sehingga di sebut one boat system. Ada juga yang menggunakan dua kapal sehigga disebut two boat system.
3.2 Nelayan
      Jumlah nelayan yang mengoperasikan lampara 6 orang. Pembagian kerjanya adalah 1 orang sebagai juru mudi, 1 orang juru mesin, 1 orang juru masak, dan 3 orang pembantu.
3.3 Alat bantu
     Pada pengoperasian pada malam hari diperlukan alat bantu yaitu lampu. Posisi lampu tersebut terdapat pada permukaan dimana lampu tersebut digantungkan pada ketinggian 60 – 100 cm di atas permukaan air. Selain itu pula diperlukan serok dalam pemindahan hasil tangkapan dari kantong jaring ke bak-bak penyimpanan ikan (Subani Barus 1989).

4. Metode Pengoperasian Lampara
   Dalam pengoprasian lampara hal yang pertama dilakukan adalah baik yang ada di kapal maupun yang ada di perahu. Setelah terlihat banyak kerumunan ikan berada di bawah lampu, maka lampu yang kapal dimatikan dan perahu yang membawa lampu di bawa menjauh sampai jarak yang telah ditentukan. Hal ini bertujuan agar ikan-ikan tertarik untuk mengikuti sinar lampu dari perahu. Kemudian perahu jaring mulai menurunkan jaring mengelilingi perahu lampu (Subani Barus 1989).
   Penurunan jaring dimulai dengan penurunan pelampung tanda. Setelah itu, salah satu ujung tali selambar dilepaskan diikuti dengan penurunan salah satu sayap. Kemudian badan jaring dan bagian yang menyerupai kantong diturunkan sampai akhirnya sampai pada tali selambar yang ke dua dan lampara melingkari gerombolan ikan.
    Setelah gerombolan ikan terlingkari, lampara ditarik dengan tenaga manusia. Lampara ditarik dari kedua sisi tali selambar, kemudian kedua sayap. Setelah penarikan sudah mendekati bagian yang menyerupai kantong, lingkaran besi di lemparkan ke dalamnya, sehingga terbentuk kantong yang sempurna seperti mangkuk ( Irvan, 1997). Kemudian kawanan ikan yang terkurung dalam kantong berikut dengan perahu di tarik kembali ke kapal.