Kamis, 04 Juli 2013

laporan oksigen di perairan leang-leang kab maros

BAB I
PENDAHULUAN
I.1.     Latar Belakang
                Perikanan adalah proses pengolahan dan pemanfaatan lebih lanjut dari hewan yang hidup di air seperti ikan dan sejenis ikan dengan cara memanfaatkan sumber daya manusia, tumbuhan, makhluk hidup dan alat-alat lainnya. Di negara Indonesia yang kaya akan berbagai sumber daya perairan, bidang perikanan dikelola oleh Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). Maksudnya Departemen Kelautan dan Perikanan sebagai pengatur dan pemberi kebijakan-kebjakan mengenai perikanan agar sumber daya perairan di Indonesia dapat dimanfaatkan sebik-baiknya untuk kesejahteraan rakyat (Josupeit dan franz, 2003). Untuk memperoleh sumberdaya periran yang berkualitas, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kuailtas airnya.
                Kualitas air dapat mempengaruhi hasil perikanan, lima syarat utama kualitas air bagi kehidupan ikan adalah Rendah kadar amonia dan nitrit, bersih secara kimiawi, memiliki pH, kesadahan, dan temperatur yang sesuai, Rendah kadar cemaran organik, dan stabil. Kualitas air secara umum menunjukkan mutu dan kondisi air dikaitkan dengan keperluan tertentu misalnya kualitas air untuk irigasi dan kualitas air untuk minum. Dalam lingkup akuarium, secara umum kualitas air mengacu pada cemaran yang dikandung dalam perairan yang menunjang kehidupan pada ekosistem tersebut. Air yang jernih bukan berarti air yang baik untuk ikan, jernih bukanlah salah satu syarat kualitasnya air. Bahkan sering dijumpai ikan hidup berkembang dan tumbuh dengan subur pada peraian yang terkesan kotor oleh manusia (Josupeit dan  Franz, 2003).
                Jernih ataupun kotornya suatu perairan di pengaruhi oleh parameter air misalnya parameter kecerahan, suhu, kadar nitrat dan posfat serta kandungan oksigen dan karbondioksida. Dalam lingkungan perairan, ikan melakukan interaksi aktif dengan energi seperti  oksigen (O2), karbon dioksida (CO2), garam-garam dan sisa metabolisme. Pertukaran materi ini terjadi antar muka, pada bahan berupa membran semipermeabel yang terdapaat pada  ikan, jika terdapat suatu bahan-bahan tertentu dengan jumlah yang tertentu akan menggagu mekanisme kerja membran tersebut dan menyebabkan kematian pada ikan  (Triyanto & Dwijono 2010).
                Berdasarkan latar belakang di atas maaka kami ingin melakukan penelitian di derah maros untuk melihat kualitas air berdasarkan parameter.
I.2.     Nama Kegiatan
  Kegiatan ini bernama Studi Ilmiah Perairan (SIP)
I.3.     Maksud Dan Tujuan
I.3.1.  Maksud
 Maksud diadakan kegiatan ini adalah untuk mengetahui kisaran parameter Oksigen, karbon dioksida, Nitrat, Phospat, Suhu, Kecerahan serta mengukur kedalaman pada suatu perairan.   
I.3.2.  Tujuan
Tujuan dari kegiatan Studi Ilmiah Perairan adalah :
Untuk mengetahui kisaran parameter pada suatu perairan.
untuk mengukur parameter fisika dan parameter kimia pada suatu perairan.
untuk membandingkan hasil yang diperoleh pada saat teori dan hasil yang diperoleh di lapangan.
I.4.    Waktu Pelaksanaan
  Kegiatan Pra-Studi ilmiah perairan dilaksanakan pada :
                                Tanggal : 06 – 17 JUNI 2013
                                Pukul                     : 09.00 WITA
                                Tempat                : Sekret HMP MSP


   Kegiatan Studi Ilmiah Perairan dilaksanakan pada :
Tanggal : kamis, 20 - 21 Juni 2013
Pukul     : 09.00 WITA – SELESAI
Tempat                : Tebing kura-kura, Desa Leang-Leang, kabupaten   Maros.
I.5.    Penanggung Jawab Kegiatan
Penanggung Jawab Kegiatan Studi Ilmiah Perairan adalah :
Kordinator Stering comitte          : Ignasius Yalfet
                Stering Comitte                                :
Khaerul S.Pi
Muh. Yusfi Yusuf
Rudi Rahmat
Adi Pranata Sofyan
                Ketua                                                    : Junardiawan Sandi Ode
                Kordinator Lapangan                      : Sahrianto
I.6     Personel Pelaksana
Nama                                    : Mega Sriutami
Nama                                    : Nur Wahida
Nama                                    : Rima
Nama                                    : Muh. Amirsyah
Nama                                    : Maghfira F.A.R
Nama                                    : Resky Kurniansyah
Nama                                    : Nirmala Sari
Nama                                    : Hasriyadi
Nama                                    : A. Nurhanna




BAB II
LANDASAN TEORI
Dalam  keberlangsungan  kehidupan makhluk hidup, Oksigen sangat di perlukan untuk bernapas maupun di perlukan untuk proses biologi, kimia dan fisika. Di dalam suatu perairan, oksigen diperlukan oleh organisme  yang mempunyai ukuran tubuh yang besar maupun yang kecil dimana penggunaan oksigen tergantung pada kondisi tubuhnya dan aktivitasnya. Oksigen mempunyai peranan penting dalam kehidupan seluruh makhluk hidup, baik hewan maupun tumbuhan. Makhluk darat menghirup oksigen yang terdapat pada udara bebas, sedangkan makhluk yang hidup di dalam air menghirup oksigen yang terlarut di dalam air (terikat). Kebutuhan oksigen  pada biota air mempunyai dua aspek kebutuhan lingkungan bagi spesies tertentu dan kebutuhan konsumtif yang bergantung pada kebutuhan metabolisme (Asmawi, 1986).
Kadar oksigen dalam air laut yang normal biasanya antara 4-6 ppm. Sedangkan kadar oksigen di udara bebas yaitu 20 % (200.000 ppm). Kadar O2 dalam air dapat lebih tinggi atau lebih rendah tergantung dari organisme yang ada di dalam air tersebut. Makin banyak organisme (ikan, plankton, tanaman air) di dalam air makin banyak pula pemakaian O2 untuk pernapasan berarti makin sedikit kandungan O2 dalam air. Apabila organisme tersebut berupa fitoplankton atau tanaman air maka pada siang hari makin banyak kandungan O2 dalam air, karena fitoplankton dan tanaman air tersebut menghasilkan O2 sebagai sisa proses fotosintesa (Bayard, 1983).
Oksigen diperlukan ikan untuk respirasi dan metabolisme dalam tubuh ikan untuk aktivitas berenang, pertumbuhan, reproduksi dan lain-lain. Laju pertumbuhan dan konversi pakan juga sangat tergantung pada kandungan oksigen. Nilai oksigen di dalam pengelolaan kesehatan ikan sangat penting karena kondisi yang kurang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan dapat mengakibatkan  ikan stress sehingga mudah terserang penyakit. Kebutuhan oksigen untuk tiap jenis biota air berbeda-beda, tergantung dari jenisnya dan kemampuan untuk beradaptasi dengan naik-turunnya kandungan oksigen.Konsentrasi oksigen yang rendah dapat diatasi dengan menggunakan aerator ataupun kincir air. Pada level di bawah 1 mg/l dapat menyebabkan penurunan laju pertumbuhan ikan. Beberapa jenis ikan air tawar mampu bertahan hidup dengan konsentrasi oksigen kurang dari 4 mg/l atau per million (ppm) tetapi nafsu makannya mulai menurun.
Untuk mempertahankan hidupnya, maka makhluk hidup yang tinggal di air baik tanaman maupun hewan tergantung pada kadar oksigen terlarut. Oksigen berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman tergantung pada pencampuran (miksin) dan  prgerakan (turbulensi) massa air, aktifitas fotosintesis respirasi dan limbah (effluent) yang masuk ke badan air. Di perairan air tawar, kadar oksigen terlarut antara 15 mg/l pada suhu 0º C dan 8 mg/l pada suhu 25ºC.
Kandungan oksigen (O2) dalam suatu perairan merupakan salah satu parameter kimia dalam menentukan kualitas air yang tingkat kebutuhannya dari tiap-tiap perairan, berbeda antara perairan satu dengan lainnya. Hal ini karena dipengaruhi oleh faktor suhu dan cuaca serta jenis organisme yang menempati perairan tersebut.
Menurut Kordi (2004), Oksigen (O2) merupakan salah satu faktor pembatassehingga apabila ketersediaannya dalam perairan tidak mencukupi kebutuhan organisme yang ada, maka segala aktivitas organisme tersebut akan terhambat. Kadar oksigen yang terlarut dalam perairan alami bervariasi, tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Semakin besar suhu dan semakin kecil atmosfer, kadar oksigen terlarut semakin sedikit. Perbedaan kebutuhan oksigen dalam suatu lingkungan bagi ikan dari spesies tertentu disebabkan oleh adanya perbedaan struktur molekul sel darah ikan, yang mempengaruhi hubungan antara tekanan parsial oksigen dalam air dan derajat kejenuhan oksigen dalam sel darah.
 Sumber Oksigen (O2)
Oksigen (O2) merupakan salah satu unsur yang sangat dibutuhkan oleh semua mahluk hidup, khususnya didalam perairan. Dalam perairan oksigen merupakan gas terlarut yang kadarnya bervariasi yang tergantung pada suhu dan salinitas. Oksigen dapat bersumber dari difusi oksigen yang terdapat diatmosfer dan aktifitas fotosintesis tumbuhan air maupun fitoplankton dengan bantuan energi matahari. Difusi juga dapat terjadi karena agitasi atau pergolakan massa air akibat adanya gelombang atau ombak dan air terjun (Effendi, 2003).
Menurut Khiatuddin (2003), oksigen juga dapat berasal dari oksidasi karbohidrat sebagai sumber energi dalam metabolisme tubuh dan pembakaran karbohidrat tersebut mengeluarkan kembali karbondioksida dan air, yang sebelumnya digunakan dalam proses pembentukan karbohidrat melalui proses fotosintesis.

Kadar Oksigen (O2)
Dalam perairan, khususnya  perairan tawar memiliki kadar oksigen (O2) terlarut berkisar antara 15 mg/l pada suhu 0oC dan 8 mg/l pada suhu 25oC. Kadar oksigen (O2) terlarut dalam perairan alami biasanya kurang dari 10 mg/l (Efendi, 2003).
Menurut Boyd (1990) dalam Caca dan Polong (2009), besarnya oksigen yang diperlukan oleh suatu organisme perairan tergantung spesies, ukuran, jumlah pakan yang dimakan, aktivitas, suhu, dan sebagainya. Konsentrasi oksigen (O2) yang rendah dapat menyebabkan stress dan kematian pada ikan. Lebih lanjut dikatakan oleh Hanafiah (2005), Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar oksigen (O2) dalam perairan  secara umum  merupakan konsekuensi terhambatnya aktivitas akar tumbuhan dan mikroba, serta difusi yang menyebabkan naiknya kadar COdan turunnya kadar O2.

Peranan Oksigen (O2) Dalam Perairan
Menurut Zonnelved (1991) dalam Kordi (2004) kebutuhan oksigen mempunyai dua aspek, yaitu kebutuhan lingkungan bagi spesies tertentu dan kebutuhan komsutif yang tergantung pada keadaan metabolisme suatu organisme. Perbedaan kebutuhan oksigen dalam suatu lingkungan bagi spesies tertentu disebabkan oleh adanya perbedaan molekul sel dari organisme yang mempengaruhi hubungan antara tekanan parsial oksigen dalam  air dan  derajat kejenuhan oksigen dalam sel darah.
Organisme dalam air membutuhkan oksigen guna pembakaran bahan bakarnya (makanan) untuk menghasilkan aktivitas, seperti aktivitas berenang, pertumbuhan, reproduksi, dan sebagainya. Beberapa jenis organisme air mampu bertahan hidup pada perairan dengan konsenterasi oksigen 3 ppm, namun  konsenterasi minimum yang masih dapat diterima sebagian besar organisme air untuk hidup dengan baik adalah 5 ppm. Pada perairan dengan konsenterasi oksigen dibawah 4 ppm organisme masih mampu bertahan hidup, akan tetapi nafsu makan mulai menurun (Kordi, 2004).

  Hubungan Oksigen (O2) Dengan Parameter Lain
Oksigen (O2) dalam suatu perairan tidak lepas dari pengaruh parameter lain seperti karbondioksida, alkalinitas, suhu, pH, dan sebagainya. Di mana semakin tinggi kadar oksigen yang dibutuhkan, maka karbondioksida yang dilepaskan sedikit. Hubungan antara kadar oksigen terlarut dengan suhu ditunjukkan bahwa semakin tinggi suhu, kelarutan oksigen semakin berkurang (Efendi, 2003), hal ini di sebabkan karena semakin tinggi suhu maka sistem metabolisme semakin meningkat juga jadi karbondioksida semakin sedikit dalam suatu perairan.
Kadar oksigen (O2) dalam perairan  tawar akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan berkurangnya kadar alkalinitas. Pada lapisan permukaan, kadar oksigen akan lebih tinggi karena adanya proses difusi antara air dengan udara bebas serta adanya proses fotosintesis. Dengan bertambahnya kedalaman akan mengakibatkan terjadinya penurunan kadar oksigen terlarut dalam perairan .
Dalam kondisi dimana konsentrasi oksigen terlarut sangat rendah dapatterjadi proses kebalikan dari nitrifikasi yaitu proses denitrifikasi dimana nitratmelalui nitrit akan menghantarkan  nitrogen bebas yang akhirnya akan lemas ke udara atau dapat juga kembali membentuk ammonium/amoniak melalui proses amnonifikasi nitrat(Barus, 2001).Di perairan alami nitrat(NO2)biasanya di temukan dalam jumlah yang sedikit,karena bersifat tidak stabil dengan keberadaan oksigen(Effendi,2003).

Dampak Oksigen (O2) Dalam Perairan
Pengurangan oksigen (O2) dalam air pun tergantung pada banyaknya partikel organik dalam air yang membutuhkan perombakan oleh bakteri melalui proses oksidasi. Makin banyak partikel organik, maka makin banyak aktivitas bakteri perombak dan makin banyak oksigen yang dikonsumsi sehingga makin berkurang oksigen dalam air (Lesmana, 2005).
Oksigen (O2) terlarut dalam air secara ilmiah terjadi secara kesinambungan. Organisme yang ada dalam air pertumbuhannya membutuhkan sumber energi seperti unsur carbon (C) yang diperoleh dari bahan organik yang berasal dari ganggang yang mati maupun oksigen dari udara. Dan apabila bahan organik dalam air menjadi berlebih sebagai akibat masuknya limbah aktivitas (seperti limbah organik dari industri), yang berarti suplai karbon (C) melimpah, menyebabkan kecepatan pertumbuhan organisme akan berlipat ganda (Putranto, 2009).

Penanggulangan Oksigen (O2)
Oksigen terlarut dalam air merupakan parameter kualitas air yang paling kritis pada budidaya ikan. Konsentrasi oksigen terlarut dalam perairan selalu mengalami perubahan dalam sehari semalam. Sehingga apabila kadar oksigen terla rut berkurang dalam air, maka perlu dilakukan cara-cara yaitu menggunakan aerator atau alat sirkulasi air yang mampu memutar oksigen dari udara kedalam air sacara cepat dan dalam jumlah besar. Oleh karena itu, pengelolaan dalam perairan harus selalu diperhatikan kadar dan perubahan konsentrasi oksigen terlarutnya (Sitanggang, 2002).
Dalam perairan, apabila terjadi penurunan  oksigen dapat dilakukan dengan penambahan bahan kimia menjadi senyawa yang lebih sederhana sebagai nutrien yang sangat dibutuhkan organisme perairan. Oksigen terlarut ini diperlukan untuk menjaga kelestarian kehidupan tumbuhan dan hewan dalam air. Kehilangan oksigen karena proses biologis ini diganti dari melarutkan udara di dalam air dan dari proses fotosintesis tumbuhan air.





BAB III
METODE KEGIATAN

3.1. Pra Kegiatan
Ada pun jadwal pra-kegiatan adalah sebagai berikut :
JADWAL KEGIATAN BINA FISIK STUDI ILMIAH PERAIRAN
HMP MSP KEMAPI FIKP UNHAS

NO
ITEM KEGIATAN
HARI/TGL
WAKTU
PENANGGUNG JAWAB
1
Lari 1 x Putaran
Sabtu, 08 Juni 2013
16.00 – End
SC dan OC
2
Renang
Minggu, 09 Juni 2013
16.00 – End
OC
3
Lari 1 x Putaran + variasi
Jum’at, 14 Juni 2013
16.00 – End
SC dan OC
3
Renang
Sabtu, 15 Juni 2013
16.00 – End
OC


JADWAL KEGIATAN STUDI ILMIAH PERAIRAN
HMP MSP KEMAPI FIKP UNHAS

NO
MATERI
HARI/TGL
WAKTU (WITA)
KETERANGAN
(Pemateri. PJ, dll)
1
Technical Meeting
Kamis, 06 Juni 2013
09.00 – 09.45
Steering Committe
2
Sejarah HMP MSP KEMAPI FIKP UNHAS dan Struktur kepenguruan Periode 2012 – 2013
Kamis, 06 Juni 2013
10.00 – 11.30
SAEFUL BAHRI
3
Nitrat (N) dan Phosfat (F)
Kamis, 06 Juni 2013
12.00 – 13.00
DENNI ARISTIAWSAN
4
MANAJEMEN PERJALANAN
Kamis, 06 Juni 2013
14.00 – 16.00
MUHAMMAD YUSFI YUSUF
5
Organisasi dan Lembaga
Sebtu, 08 Juni 2013
14.00 – 15.30
ZULUNG ZACH WALYANDRA
6
BINA FISIK
Sabtu, 08 Juni 2013
16.00 – End
--____--
7
BINA FISIK
Minggu, 09 Juni 2013
16.00 – End
--____--
8
Oksigen (O2), Karbondioksida (CO2), dan Alkalinitas
Selasa, 11 Juni 2013
10.00 – 11.00
ADHIYAAT RIDHO AGAM
9
PPGD
Selasa, 11 Juni 2013
11.30 – 13.00
TBM CALCANEUZ FK – UH
10
Suhu (˚C) dan pH
Selasa, 11 Juni 2013
14.00 – 15.00
DARNI
12
Metode Pendataan dan Sistemtika Laporan
Selasa, 11 Juni 2013
15.00 – 16.00
ABZHAL BASTARIE
11
Survival
Kamis, 13 Juni 2013
10.00 – 11.00
IGNASIUS YALFET
12
Kepadatan dan Kerapatan Ekosistem Mangrove
Kamis, 13 Juni 2013
11.00 – 13.00
MUHAMMAD NUR / ARNOLD KABANGGA / SABILI RASAD
13
BINA FISIK
Jum’at, 14 Juni 2013
16.00 – End
--____--
14
BINA FISIK
Sabtu, 15 Juni 2013
16.00 – End
--____--
15
SIMULASI
Minggu, 16 Juni 2013
08.00 - End
--____--
16
Pengaplikasian Medan
Rabu – Kamis,
19 – 20 Juni 2013
-

17
Masa Tenggang
(Pembuatan Laporan)
21 – 28 Juni 2013
-

18
EVALUASI
Sabtu – Minggu,
29 – 30 Juni 2013
-


 NB         : - Schedule kegiatan sewaktu-waktu dapat berubah


3.2  Anggaran Dana
ALAT DAN BAHAN
JUMLAH
HARGA (Rp)
Botol Sampel
Termometer
Cool Box
Kantong Plastik
Tali Weebing
Roti Tawar
Susu Coklat
Latban
Tali Sechi Disk
Es batu
Garam
20 buah
1
1
5
1 (5 meter)
2 Bungkus
1 Kaleng
1
10 meter
1 Balok
2 Bungkus
Rp.  8.000
Rp. 13.000
Rp. 40.000
Rp. 10.000
Rp. 20.000
Rp. 14.000
Rp. 12.000
Rp. 12.000
Rp. 10.000
Rp.   5.000
Rp.   1.000
TOTAL
Rp. 145.000
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1     Sekilas Tentang Lokasi
                TamanPrasejarah Leang-Leang adalah objek wisata purbakala yang berada tidak jauh dari Taman Wisata Alam Bantimurung. Leang dalam bahasa Makassar berarti gua, dengan pengulangan kata berarti gua-gua atau kawasan gua. Sebab di daerah ini terdapat banyak gua peninggalan arkeologis yang sangat unik dan menarik.

                Meski wilayahnya sudah tidak termasuk dalam Desa Wisata Samangki, namun dapat disebut sebagai objek wisata daerah sekitar Samangki karena letaknya hanya berjarak sekitar 7.5 kilometer dari Samangki. Leang-leang terletak di Kelurahan Kalabirang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros.
                Menurut asumsi beberapa masyarakat setempat nama daerah tebing kura-kura adalah kampong cedde (cedde merupakan bahasa daerah yang berarti sedikit dalam bahasa indonesia) karena lokasi tersebut hanya dihuni oleh beberapa kepala keluarga. Berdasarkan pengamatan kami, pada daerah itu merupakan perairan tertutup, tidak terlalu disinari oleh sinar matahari karena ditutupi oleh daun rumbia, airnya tenang, dikelilingi tumbuhan hijau dan tebing.

IV.2     List Kegiatan
N0.
Hari/Tanggal
Pukul
Kegiatan


Kamis, 20 Juni 2013
06.00
Kumpul
07.30
Berangkat Menuju Lokasi
08.30
Tiba Di lokasi
08.40 – 09.10
Pembukaan SIP
10.00 – 13.00
Turun Di lapangan
13.00 – 14.00
Ishoma
14.00 – 17.00
Turun ke lapangan
17.00 – 19.30
Bersih-bersih dan ishoma
19.30 – 20.30
Makan Malam
20.30 – 23.00
Bersih-bersih dan ishoma
23.00 – 00.30
Makan Malam
00.30
Istirahat
2.
Jum’at, 21 Juni 2013
06.00
Bangun Pagi
06.30 – 07.00
Streching
07.00 – 08.00
Sarapan
08.00 – 10.00
Sosial Penduduk
10.00 – 11.00
Penutup
11.00 – 12.00
Back to campus
12.00 – 16.00
Kumpul di sekret







IV. 3.    Perolehan Data Dan Pembahasan
IV.3.1.     Pengolahan Data
Data pada sampel botol terang :
Station
Pukul
14.00
15.00
15.30
16.00
VT
VS
VT
VS
VT
VS
VT
VS
1
5,5 ml
100 ml






2


3 ml
100 ml




3




3,5 ml
100 ml


4






3,5 ml
100 ml

                Rumus                  O2 ppm =      1000 x 0,16 x VT
                                                                                       VS



Stasiun 1, pukul 14.00 :
O2 ppm =   1000 x 0,16 x VT1
                                                           VS1
O2 ppm =   1000 x 0,16 x 5,5
                                                           100
                                      = 8,8 ppm

Station 2, Pukul 15.00 :
O2 ppm =   1000 x 0,16 x VT2
                                                           VS2
O2 ppm =   1000 x 0,16 x 3
                                                           100
                                      = 4,8 ppm
Station 3, Pukul 15.30 :
O2 ppm =   1000 x 0,16 x VT3
                                                           VS3
O2 ppm =   1000 x 0,16 x 3,5
                                                           100
                                      = 5,6 ppm

Station 4, Pukul 16.00 :
O2 ppm =   1000 x 0,16 x VT4
                                                           VS4
O2 ppm =   1000 x 0,16 x 3,5
                                                           100
                                      = 5,6 ppm




Data pada sampel botol gelap
Station
Pukul
14.00
15.00
15.30
16.00



VT
VS
VT
VS
VT
VS
VT
VS
1
4 ml
100 ml






2


3,5 ml
100 ml




3




3,5 ml
100 ml


4






2,5 ml
100 ml



Rumus                  O2 ppm =      1000 x 0,16 x VT
                                                                                       VS



Stasiun 1, pukul 14.00 :
O2 ppm =   1000 x 0,16 x VT1
                                                           VS1
O2 ppm =   1000 x 0,16 x 4
                                                           100
                                      = 6,4 ppm

Station 2, Pukul 15.00 :
O2 ppm =   1000 x 0,16 x VT2
                                                           VS2
O2 ppm =   1000 x 0,16 x 3,5
                                                           100
                                      = 5,6 ppm
Station 3, Pukul 15.30 :
O2 ppm =   1000 x 0,16 x VT3
                                                           VS3
O2 ppm =   1000 x 0,16 x 3,5
                                                           100
                                      = 5,6 ppm

Station 4, Pukul 16.00 :
O2 ppm =   1000 x 0,16 x VT4
                                                           VS4
O2 ppm =   1000 x 0,16 x 2,5
                                                           100
                                      = 4 ppm






Station
Pukul
Sustation (T)
Suhu
Kecerahan
Kedalaman
D1
D2
1
14.00
1
28ºC
72 cm
68 cm
74 cm
2
27ºC
40 cm
30 cm
40 cm
3
28ºC
38 cm
30 cm
70 cm
2
15.00
1
27ºC
58 cm
48 cm
69 cm
2
28ºC
52 cm
41 cm
82 cm
3
27ºC
65 cm
47 cm
85 cm
3
15.30
1
29ºC
50 cm
25 cm
100 cm
2
28ºC
40 cm
18 cm
54 cm
3
28ºC
35 cm
25 cm
140 cm
4
16.00
1
27ºC
25 cm
12 cm
51 cm
2
27ºC
30 cm
20 cm
51 cm
3
27ºC
31 cm
21 cm
78 cm

                                                                                x  =    k1 + K2 + K3
                                                                                                      3


Suhu pada Station 1
x  =    K1 + K 2+ K3
                                   3
                 =   28 + 27 + 28
                                   3
                                 = 27,667
Suhu pada Station 2
x  =    K1 + K 2+ K3
                                   3
                 =   27 + 28 + 27
                                   3
                                 = 27,333
Suhu pada Station 3
x  =    K1 + K 2+ K3
                                   3
                 =   29 + 28 + 28
                                   3
                                 = 28,333
Suhu pada Station 4
x  =    K1 + K 2+ K3
                                   3
                 =   27 + 27 + 27
                                   3
                                 = 27



                                                                                D1 + D2
                                                                                      2


Kecerahan pada Station 1
Substaion 1        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      72 + 68                       
               2
 =  70 cm

= Kedalaman – Kecerahan
= 74 cm – 70 cm
= 4 cm

Masukkan Dalam Bentuk Persen
4    × 100 %   = 5, 4054 %
74

Substaion 2        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      40 + 30                       
               2
 =  35 cm

= Kedalaman – Kecerahan
= 40 cm – 35 cm
= 5 cm

Masukkan Dalam Bentuk Persen
5    × 100 %   = 12,5 %
40

Substaion 3        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      38 + 30                       
               2
 =  34 cm

= Kedalaman – Kecerahan
= 70 cm – 34 cm
= 36 cm

Masukkan Dalam Bentuk Persen
36    × 100 %   = 51, 4285 %
70

Kedalaman pada Station 2
Substaion 1        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      58 + 48                       
               2
 =  53 cm

= Kedalaman – Kecerahan
= 69 cm – 53 cm
= 16 cm

Masukkan Dalam Bentuk Persen
16     × 100 %   = 23, 1884 %
69

Substaion 2        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      52 + 41                       
               2
 =  46,5 cm

= Kedalaman – Kecerahan
= 82 cm – 46,5 cm
= 35,5 cm

Masukkan Dalam Bentuk Persen
35,5   × 100 %   = 43,2927 %
82
Substaion 3        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      65 + 47                       
               2
 =  56 cm

= Kedalaman – Kecerahan
= 85 cm – 56 cm
= 29 cm

Masukkan Dalam Bentuk Persen
29  × 100 %   = 34,1177 %
85
Kedalaman pada Station 3
Substaion 1        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      50 + 25                       
               2
 =  37,5 cm

= Kedalaman – Kecerahan
= 100 cm – 37,5 cm
= 62,5 cm

Masukkan Dalam Bentuk Persen
62,5   × 100 %   = 62,5 %
100

Substaion 2        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      40 + 18                       
               2
 =  29 cm
= Kedalaman – Kecerahan
= 54 cm – 29 cm
= 25 cm

Masukkan Dalam Bentuk Persen
   × 100 %   = 46, 2963 %
54

Substaion 3        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      35 + 25                       
               2
 =  30 cm

= Kedalaman – Kecerahan
= 140 cm – 30 cm
= 110 cm

Masukkan Dalam BentukPersen
  × 100 %   = 78, 5714 %
140
Kedalaman pada Station 4
Substaion 1        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      25 + 12                       
               2
 =  18,5 cm

= Kedalaman – Kecerahan
= 51 cm – 18,5 cm
= 32,5 cm

Masukkan Dalam Bentuk Persen
32,5  × 100 %   = 63, 7252 %
 51

Substaion 2        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      30 + 20                       
               2
 =  75 cm




= Kedalaman – Kecerahan
= 51 cm – 25 cm
= 26 cm

Masukkan Dalam Bentuk Persen
 26     × 100 %   = 50, 9803 %
51

Substaion 3        
 =      D1 + D2                      
                2             
 =      31 + 21                                       
               2
 =  26 cm

= Kedalaman – Kecerahan
= 78 cm – 26 cm
= 52 cm

Masukkan Dalam Bentuk Persen
52     × 100 %   = 66,6667 %
78






IV.3.2.     Pembahasan
Oksigen (O2)
Percobaan kali ini mengukur tentang parameter fisika dan kimia pada perairan, kelompok kami membahas tentang oksigen yang terlarut dalam suatu perairan.
Oksigen terlarut atau DO merupakan salah satu parameter penting dalam analisa kualitas air. Nilai DO yang biasanya diukur dalam bentuk konsentrasi ini menunjukkan jumlah oksigen yang tersedia dalam suatu badan air. Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar.
Di dalam air, oksigen memainkan peran penting, di tebing kura-kura, desa laeng-laeng memiliki Kualitas air yang bagus karena pada botol terang memiliki konsentrasi oksigen diatas 4 ppm yaitu pada station 1 pukul 14.00 = 8,8 ppm, station 3 pukul 15.30 = 5,6 ppm, staion 4 pukul 16.00 = 5,6 ppm, dan juga botol gelap pada station 1 pukul 14.00 = 6,4 ppm, station 2 pukul 15.00 = 5,6 ppm, station 3 pukul 15.30 = 5,6 ppm sehingga organisme mampu bertahan hidup dan memiliki nafsu makan yang baik.
Sedangkan pada botol terang station 2 pukul 15.00 = 4,8 ppm dan botol gelap station 4 pukul 16.00 = 4 ppm beberapa jenis organisme dapat bertahan hidup pada perairan dengan konsentrasi oksigen 3-4 ppm akan tetapi nafsu makannya rendah atau tidak sama sekali, sehingga pertumbuhannya menjadi terhambat. Bahkan organisme akan mati atau mengalami stres bila konsentrasi oksigen mencapai nol. Namun konsentasi minimum yang masih dapat di terima oleh sebagian besar spesies ikan untuk hidup dengan baik adalah 5 ppm.
Pada Uji Lab dengan bantuan bahan kimia seperti MnSO4 dan Kl botol terang yang dapat dilihat perubahan warnanya mengalami perubahan stelah di tambahkan 10 ml dari yang berwarna bening menjadi warna coklat pekat dan terlihat beberapa endapan. Tapi, setelah ditetes dengan H2SO4 terjadi perubahan warna dari warna coklat pekat yang terdapat endapan menjadi warna coklat bening. Dan setelah di tetesi dengan beberapa Na2SO4 warna sampel kembali ke warna yang sebelumnya.
suhu
Suhu yang baik untuk suatu  perairan khususnya perairan air tawar adalah pada kisaran suhu  20-30°C. Perubahan suhu di bawah 20°C atau di atas 30°C menyebabkan ikan mengalami stres yang biasanya diikuti oleh menurunnya daya cerna (Trubus Edisi 425, 2005). Jadi Suhu yag ada pada tebing kura-kura desa leang-leang sangat baik untuk kehidupam suatu organisme.
Kecerahan
Kecerahan pada perairan sungai sekitar tebing kura-kura  termasuk rendah karena dilihat secara fisik maupun di lihat dari sampel yang telah di analisa Pada station 1 dan substation 1 = 5, 4054 %, substation 2 = 12, 5%, substation 3 = 51, 2485%, Station 2 substation 1 = 23, 1884%, substation 2 = 43, 2927%, substation 3 = 34, 1177 %, pada station 3 substation 1 = 62,5 %, substation 2 = 46 2963  %, substation 3 = 78, 5714 %, pada station 4 substation 1 = 63, 7252 %, substation 2 = 50, 9803%, substation 3 = 66,6667 %. Dimana data tersebut menunjukkan kecerahan rata-rata perairan di tebing kura-kura di bawah 50 %.
IV.4.     Data sosiologi Fisik Dan Nonfisik
IV.4.1.    Data sosiologi Fisik















IV.4.1.    Data sosiologi Nonfisik 
                Setelah melakukan survey kepada penduduk, maka data yang kami peroleh sebagai berikut:
 Nama                   : Pak Halis
Umur                    : 46 tahun
Pekerjaan                           : Penjahit
Istri                        : Hadariah
Pekerjaan                           : URT
Ipar                        : Rohana
Pekerjaan                           : Pembuat anyaman
Kami tidak memperoleh Informasi dari keluarga ini tentang lokasi penelitin karena mereka tergolong sebagai keluarga pendatang.
Nama                    : Muh. Yahya
TTL                         : Maros/ 01 Januari 1951
Istri                        : Jumriah
Pekerjaan                           : Petani
Agama                  : Islam
Jumlah anak       : 8 Orang
Menurut bapak ini, tebing pada lokasi penelitian bernama tebing Ballangnge. Pada daerah ini tidak pernah kekeringan karena banyaknya mata air. Tradisi pada daerah ini yaitu adanya pesta panen tiap tahunnya sebagai tanda syukur para masyarakat atas hasil panen yang diperoleh. Keluarga ini juga pernah mendapat bantuan dari pemerintah berupa bibit ikan, namun bantuan tersebut diberikan kepada masyarakat yang lain karena keluarga ini memiliki keterbatasan dana untuk membuat kolam.
Nama                    : Pak Anwar
Pekerjaan                           : Usaha jahitan dan usaha di bengkel
Nama Istri                           : Badariah
Nama Anak         : Nur Indah
Umur                    : 33 Tahun
Pekerjaan           : Guru matematika di DDI Alori Tengngae sejak 2005-sekarang
Jumlah anak       : 3 orang
Keluarga ini tidak menceritakan keadaan lokasi secara spesifik, berhubung orang yang dimintai keterangan hanya dating ke Maros untuk berlibur.

                Data yang diperoleh dari kantor kelurahan adalah sebagai berikut:
Nama                    : A. Muh. Jufri, S.Sos
Pekerjaan                           : Instansi kelurahan        
                Data yang di peroleh dari bapak ini yaitu, mayoritas penduduknya memiliki pekerjaan sebagai petani, yang berjumlah sekitar kurang lebih 4000 orang, namun yang mendapatkan bantuan hanya sekitar 200 orang. Tradisi pada daerah ini yaitu adanya pesta panen yang dirayakan tiap tahun. Namun demikian, seiring dengan adanya perkembangan zaman, pesta panen yang merupakan suatu tradisi yang dulunya hampir seluruh masyarakat merayakan, kini tidak lagi. Di kelurahan ini terdapat pula 1 SMA, 3 SMP, 3 SD, dan 2 TK pada desa yang berbeda-beda.



BAB V
PENUTUP

V.1     Kesimpulan
Kisaran parameter suatu perairan berbeda-beda, dapat ditentukan berdasarkan kondisi wilayah perairan tersebut
Pengukuran yang digunakan menggunakan parameter fisika yakni: suhu dan kecerahan, sedangkan parameter kimia yakni: pH, O2, CO2, Nitrat, Posfat dan BOD.
Hasil yang berdasarkan teori berbeda dengan hasil yang didapatkan di lapangan, karena saat pengambilan sampel kurang efektif dan efesien sehingga terdapat kesalahan yang menyebabkan perbedaan tersebut. 
V.2     Saran
Untuk Kegiatan Studi Ilmiah Perairan :
Waktu Kegiatan harus on-time.
Barang – barang yang di gunakan sebaiknya di minimalisir.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar